periskop.id - Isu seputar kursi kepelatihan Timnas Indonesia memang tidak pernah sepi dari sorotan. Di tengah perbincangan hangat mengenai masa depan Timnas Indonesia dan target tinggi PSSI, muncul satu nama asing yang belakangan ini dikaitkan dengan Skuad Garuda, yaitu John Herdman.

Mungkin sebagian dari kalian masih bertanya-tanya, "Siapa sih orang ini?" atau "Apa hebatnya dia dibanding pelatih kita sekarang?"

Tenang, jangan buru-buru skeptis. John Herdman bukanlah pelatih "kaleng-kaleng". Ia datang dengan resume mentereng yang mungkin justru menjadi kepingan puzzle yang dicari PSSI untuk menembus level dunia. Mari kita bedah profilnya lebih dalam lewat fakta-fakta berikut ini.

1. Pelajaran Herdman untuk Timnas Indonesia: Membangun Tim dari Nol

John Herdman bukan sekadar nama besar, melainkan figur yang mengubah arah sejarah sepak bola Kanada. Sebelum era Herdman, Kanada pernah mengalami periode kurang stabil di kancah sepak bola kawasan dan lolos ke Piala Dunia menjadi pencapaian luar biasa.

Perubahan dimulai pada 2018, saat Herdman ditunjuk sebagai pelatih kepala. Penunjukan ini sempat diragukan karena latar belakangnya yang lebih dikenal sukses menangani tim nasional wanita. Namun, hasil di lapangan membungkam keraguan tersebut.

Dalam waktu empat tahun, Herdman membawa Kanada lolos ke Piala Dunia 2022 Qatar, mengakhiri penantian panjang selama 36 tahun sejak penampilan terakhir pada edisi 1986. Lebih dari sekadar lolos, Kanada tampil impresif di kualifikasi piala dunia 2022 zona Confederation of North, Central American and Caribbean Association Football (CONCACAF), finis sebagai juara klasemen final round, mengungguli Amerika Serikat dan Meksiko.

Keberhasilan ini menegaskan bahwa pencapaian Kanada lahir dari struktur tim yang jelas, disiplin taktik, dan visi jangka menengah. Transformasi dari tim pelengkap menjadi kekuatan utama CONCACAF inilah yang membuat nama John Herdman relevan dibicarakan dalam konteks Timnas Indonesia, negara dengan potensi besar yang tengah mencari lompatan menuju level elit Asia.

Nah, kalau rekam jejak prestasinya sudah terbukti, bagaimana dengan kemampuannya mengelola pemain? Apalagi Timnas kita sekarang isinya banyak pemain naturalisasi. Yuk, lanjut ke poin kedua! 

2. Kekompakan di Tengah Keberagaman: Pelajaran dari Timnas Kanada

Dalam pembahasan mengenai arah Timnas Indonesia, isu kekompakan tim kerap menjadi sorotan, terutama ketika sebuah tim nasional dihuni pemain yang berkarier di berbagai liga dan negara. Dalam konteks ini, pengalaman John Herdman bersama Timnas Kanada sering dijadikan rujukan.

Saat menangani Timnas Kanada, Herdman memimpin skuad yang terdiri dari pemain dengan latar belakang kompetisi berbeda. Beberapa pemain kunci Kanada berkarier di level tertinggi Eropa, seperti Alphonso Davies (Bayern München) dan Jonathan David (Lille), sementara pemain lainnya bermain di Major League Soccer (MLS) dan liga domestik Amerika Utara.

Media olahraga Kanada, TSN, mencatat bahwa Herdman menekankan pentingnya rasa kebersamaan dan identitas kolektif tim yang kerap disebut sebagai brotherhood. Pendekatan ini dinilai berkontribusi terhadap performa konsisten Kanada di kualifikasi piala dunia 2022 zona CONCACAF hingga berhasil lolos ke putaran final Piala Dunia Qatar.

Selain itu, laporan Sky Sports menggambarkan Herdman sebagai pelatih dengan kemampuan komunikasi dan kepemimpinan ruang ganti yang kuat yang mampu menyatukan pemain dengan latar belakang klub dan pengalaman berbeda ke dalam satu visi permainan. Fokus pada kepercayaan antarpemain dan komitmen terhadap tim nasional menjadi bagian penting dari kepemimpinannya.

Rekam jejak tersebut menunjukkan bahwa John Herdman tidak hanya dikenal dari sisi taktik, tetapi juga dari kemampuannya dalam mengelola dinamika tim nasional modern yang menuntut keseimbangan antara kualitas individu dan kekompakan kolektif.

3. Taktik "Bunglon": Fleksibilitas 3-4-3 yang Agresif

John Herdman dikenal sebagai pelatih yang fleksibel secara taktik dan tidak terpaku pada satu sistem permainan. Sejumlah analisis media mencatat bahwa selama menangani Timnas Kanada, ia paling sering menggunakan formasi tiga bek, terutama 3-4-3 atau variasi 3-4-2-1, untuk menyesuaikan karakter pemain dan kebutuhan pertandingan.

Dalam skema tersebut, peran wing-back menjadi sangat penting. Alphonso Davies kerap diberi kebebasan menyerang dari sisi kiri dan menjadi salah satu senjata utama Kanada. Pendekatan ini dinilai efektif karena mampu memaksimalkan kekuatan sayap tanpa mengorbankan struktur tim.

Meski begitu, Herdman juga dikenal adaptif dan tidak ragu mengubah sistem keempat bek saat situasi pertandingan menuntut pendekatan berbeda. Rekam jejak ini menunjukkan bahwa kekuatan utama Herdman terletak pada kemampuan membaca permainan dan menyesuaikan taktik secara kontekstual, bukan sekadar pada satu formasi tertentu.

4. Adaptasi dan Kecerdasan Emosional sebagai Kunci Sukses Herdman

John Herdman mencatatkan rekor langka dalam sejarah sepak bola internasional. Ia dikenal sebagai pelatih pertama yang berhasil membawa tim nasional pria dan tim nasional wanita dari satu negara yang sama lolos ke Piala Dunia.

Sebelum menangani tim pria Kanada, Herdman lebih dulu membangun reputasi kuat di sepak bola wanita. Ia melatih Timnas Wanita Kanada dan membawa mereka meraih dua medali perunggu Olimpiade secara beruntun, masing-masing pada Olimpiade London 2012 dan Rio de Janeiro 2016. Prestasi tersebut menempatkannya sebagai salah satu pelatih tersukses dalam sejarah sepak bola Kanada.

Setelah itu, Herdman beralih menangani Timnas Pria Kanada dan kembali mencetak sejarah dengan membawa Kanada lolos ke Piala Dunia 2022 di Qatar, mengakhiri penantian panjang selama 36 tahun. Media Kanada mencatat pencapaian ini sebagai prestasi unik karena dilakukan oleh pelatih yang sama di dua sektor berbeda, yaitu wanita dan pria.

Apa artinya ini buat Indonesia? Ini menunjukkan kecerdasan adaptasinya. Melatih tim wanita dan tim pria membutuhkan pendekatan psikologis dan fisik yang sangat berbeda. Herdman membuktikan dia bisa sukses di kedua dunia tersebut. Ini menandakan dia adalah pelatih yang cerdas secara emosional (Emotional Intelligence) dan sangat detail dalam persiapan turnamen. PSSI membutuhkan pelatih turnamen yang tahu cara menang di laga-laga krusial sistem gugur, bukan sekadar pelatih yang bagus di liga.