periskop.id - Muda Bicara ID resmi merilis hasil Survei Nasional Q4 untuk memotret persepsi publik di penghujung tahun 2025. Riset yang berlangsung sejak 10 November hingga 10 Desember 2025 ini merekam aspirasi dari 800 responden muda di seluruh Indonesia. Data yang terkumpul memberikan gambaran utuh, mulai dari tingginya apresiasi hingga kritik tajam yang tak bisa diabaikan oleh pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.

Kira-kira, bagaimana penilaian anak muda terhadap kinerja mereka berdua? Apakah mayoritas memberikan pujian atau justru banyak yang kecewa? Yuk, kita bedah angkanya satu per satu! Dimulai dari tingkat kepuasan secara umum.

Prabowo vs Gibran: Siapa yang Lebih Memikat Hati Anak Muda?

Pemerintahan Prabowo-Gibran mendapatkan sambutan positif dari kelompok muda pada periode awal jabatan mereka. Data survei terbaru memperlihatkan bahwa 60,8% responden menyatakan puas terhadap kebijakan pemerintah sejauh ini. Angka mayoritas ini menjadi bukti adanya dukungan yang solid dan penerimaan yang baik dari generasi muda. Namun, di balik dukungan itu, data juga menunjukkan fakta yang harus diwaspadai, terdapat 39,3% responden yang menyatakan ketidakpuasan. 

Ada temuan menarik ketika kita melihat bagaimana anak muda memberikan penilaian terpisah antara presiden dan wakil presiden. Hasil survei memperlihatkan bahwa sosok Prabowo masih menjadi pusat kepercayaan utama bagi publik muda. Tingkat kepuasan terhadap kinerja Prabowo mencapai 67,9%. Angka ini sedikit lebih tinggi jika dibandingkan dengan kinerja Gibran yang mencatatkan tingkat kepuasan sebesar 64,0%. 

Perbedaan angka ini menunjukkan bahwa harapan politik anak muda saat ini lebih banyak diletakkan pada sosok Prabowo. Sementara itu, evaluasi terhadap Gibran terlihat lebih ketat, meskipun secara umum mayoritas responden masih memberikan penilaian positif. Situasi ini menuntut wakil presiden untuk membuktikan kinerjanya secara lebih nyata demi menyeimbangi persepsi publik terhadap presiden.

Lantas, jika figur pemimpinnya masih dipercaya, aspek apa yang sebenarnya membuat kelompok muda ini merasa gerah hingga muncul angka ketidakpuasan yang signifikan? 

Apa Tiga Isu Krusial yang Membuat Anak Muda Kecewa?

Meskipun mayoritas responden menyatakan puas terhadap kinerja presiden dan wakilnya, pendapat dari 39,3% kelompok yang tidak puas didasari oleh alasan yang sangat penting dan mendasar. Ditemukan fakta bahwa anak muda saat ini memiliki kepedulian yang tinggi terhadap isu keberlanjutan lingkungan dan Hak Asasi Manusia (HAM).

Terdapat tiga alasan utama yang mendasari ketidakpuasan mereka.

1. Pengelolaan Lingkungan dan Sumber Daya Alam

Sektor ini dinilai buruk. Anak muda semakin kritis terhadap praktik pemanfaatan alam yang dianggap merusak dan tidak berkelanjutan.

2. HAM dan Kebebasan Sipil 

Aspek ini dinilai masih terbatas. Isu mengenai kebebasan berekspresi dan penegakan HAM masih menjadi perhatian serius.

3. Transparansi dan Responsivitas

Pemerintah dianggap kurang transparan dan lambat dalam merespons kebutuhan serta aspirasi generasi muda.

Kritik-kritik ini menegaskan bahwa bagi anak muda, keberhasilan pembangunan fisik dan ekonomi saja belum cukup. Mereka menginginkan pembangunan yang juga memperhatikan kelestarian lingkungan serta menjamin kebebasan demokrasi.

Apakah kekecewaan pada isu lingkungan dan HAM ini membuat seluruh kinerja pemerintah dinilai buruk? Ternyata tidak. Data survei menunjukkan anak muda masih mampu memilah prestasi. Ada sektor-sektor tertentu yang justru menjadi primadona dan mendulang kepuasan sangat tinggi.

Sektor Paling Memuaskan dan Mengecewakan bagi Anak Muda

Saat masuk ke penilaian bidang yang lebih spesifik, anak muda memberikan penilaian tinggi pada sektor-sektor yang berdampak langsung terhadap pengembangan diri dan citra negara. Data survei mencatat tingkat kepuasan yang sangat tinggi, yakni di atas 72% untuk bidang pendidikan, ekonomi nasional, hubungan diplomatik, dan sosial budaya. 

Tingginya angka kepuasan di bidang pendidikan dan ekonomi ini membuktikan bahwa program-program pemerintah di sektor tersebut dirasakan manfaatnya secara nyata oleh masyarakat.

Sebaliknya, tingkat ketidakpuasan justru paling banyak muncul pada isu hukum dan keadilan serta kesejahteraan. Hal ini menjadi indikasi kuat bahwa meskipun kondisi ekonomi nasional dianggap baik, aspek penegakan hukum dan pemerataan kesejahteraan masih dinilai kurang maksimal oleh anak muda. Mereka berpandangan bahwa hukum belum ditegakkan dengan cukup adil.