Periskop.id - Biaya kehidupan sehari hari yang terus merangkak naik ternyata tidak hanya berdampak pada pemenuhan kebutuhan pokok seperti pangan dan papan. Tren biaya gaya hidup, termasuk aktivitas berkencan atau pacaran, kini menjadi beban finansial tersendiri yang cukup berat. 

Fenomena ini memicu kekhawatiran karena banyak generasi muda yang terancam terjebak dalam lautan utang demi mengejar standar kencan yang ideal.

Berdasarkan data riset global, perilaku konsumtif dalam hubungan asmara ini nyata terjadi. Pada tahun 2022, Lending Tree melakukan survei terhadap 1.578 konsumen di Amerika Serikat (AS). 

Temuan survei tersebut cukup mengejutkan, di mana tercatat sebanyak 22% kelompok milenial dan 19% Gen Z mengaku rela berutang demi membiayai kegiatan kencannya.

Lebih jauh lagi, dari kelompok responden yang masih aktif berkencan, 32% di antaranya menyatakan tetap akan memaksakan diri untuk pacaran meskipun mereka sebenarnya tidak memiliki modal finansial yang cukup.

Menakar Biaya Kencan di Jakarta

Jika melihat kondisi di Indonesia, khususnya di wilayah metropolitan seperti Jakarta, biaya kencan memang memakan porsi yang tidak sedikit dari pendapatan bulanan. 

Publikasi riset Deutsche Bank Research tahun 2019 yang berjudul Mapping the World’s Prices 2019 mencatat bahwa biaya termurah untuk sekali kencan di DKI Jakarta adalah sebesar 45 dolar AS. 

Jika dikonversi menggunakan rata-rata nilai kurs tahun 2019, angka tersebut setara dengan Rp636 ribu untuk sekali jalan.

Apabila angka tersebut dibandingkan dengan Upah Minimum Regional (UMR) DKI Jakarta tahun 2019 yang sebesar Rp3.94 juta, maka biaya untuk satu kali kencan saja sudah menguras 16,15% dari total gaji sebulan. 

Namun, angka ini merupakan rata-rata statistik. Berdasarkan penelusuran tim Periskop melalui platform diskusi Quora, masih terdapat fleksibilitas biaya di mana beberapa orang mengaku mengeluarkan uang di rentang Rp200 ribu hingga Rp500 ribu untuk sekali kencan di ibu kota.

Analisis Biaya Peluang: Kencan vs Investasi

Dalam ilmu ekonomi, setiap keputusan alokasi dana memiliki biaya peluang atau opportunity cost. Hal ini merujuk pada manfaat yang hilang ketika seseorang memilih satu opsi dibandingkan opsi lainnya. 

Mari kita simulasikan jika uang kencan tersebut dialokasikan untuk instrumen investasi jangka panjang seperti emas.

Jika uang kencan sebesar Rp636 ribu pada tahun 2019 digunakan untuk membeli emas batangan Antam yang saat itu harganya berkisar Rp762 ribu per gram pada 31 Desember 2019, maka seseorang bisa mendapatkan sekitar 0,84 gram emas.

Per tanggal 2 Januari 2026, harga emas batangan Antam telah melonjak hingga mencapai Rp2.5 juta per gram. Dengan demikian, nilai emas seberat 0,84 gram yang dibeli di tahun 2019 kini telah tumbuh menjadi Rp2,09 juta. 

Kenaikan nilai ini menunjukkan adanya pertumbuhan aset yang signifikan jika dibandingkan dengan menguapnya dana tersebut untuk konsumsi kencan satu malam.

Pada akhirnya, baik atau buruknya alokasi biaya pacaran sangat bergantung pada kondisi finansial pribadi masing-masing. Jika penghasilan seseorang cukup untuk membiayai gaya hidupnya tanpa harus mengorbankan tabungan atau berutang, maka hal tersebut tidak menjadi masalah. 

Namun, jika keinginan untuk tampil impresif saat kencan justru menjerumuskan seseorang ke dalam kesulitan keuangan, maka manajemen prioritas keuangan perlu segera ditinjau ulang.