Periskop.id - Industri hiburan Indonesia baru saja diguncang oleh sebuah peristiwa sosial-politik yang dibungkus dalam format komedi tunggal atau stand-up comedy.
Keberhasilan pertunjukan bertajuk Mens Rea memuncaki daftar tontonan paling populer di Netflix Indonesia bukan sekadar pencapaian komersial biasa.
Tayangan ini menjadi penanda penting bahwa kritik politik yang disampaikan secara terbuka, satir, dan tanpa sensor masih memiliki tempat yang sangat besar di ruang publik Indonesia, meskipun berada di bawah bayang-bayang kekhawatiran akan kriminalisasi.
Berdasarkan data percakapan digital yang dihimpun dan diolah oleh Drone Emprit dalam rentang waktu sebelas hari, mulai dari 26 Desember 2025 hingga 6 Januari 2026, Mens Rea memicu hampir 20 ribu percakapan lintas media sosial.
Tidak hanya di jagat maya, fenomena ini juga menarik perhatian media arus utama dengan hampir 1.000 pemberitaan media daring. Total interaksi yang dihasilkan sangat masif, mencapai lebih dari 117 juta interaksi.
Skala statistik ini menempatkan karya terbaru Pandji Pragiwaksono tersebut bukan sekadar sebagai tontonan akhir tahun, melainkan sebagai peristiwa sosiologis yang memicu polarisasi opini di berbagai kalangan.
Kontras Tajam: Narasi Media Berita vs Sentimen Warganet
Satu hal yang paling menarik dari temuan data Drone Emprit adalah adanya jurang perbedaan yang sangat tajam antara cara publik merespons dan cara media arus utama membingkai (framing) isu ini. Terdapat dua dunia yang berbeda dalam memandang Mens Rea.
Pada media daring (online), sentimen yang muncul cenderung negatif. Data menunjukkan angka sentimen negatif mencapai 53,2%, berbanding jauh dengan sentimen positif yang hanya 35,4%, dan sisanya 11,4% bersifat netral.
Media arus utama tampaknya lebih tertarik menyoroti sisi kontroversi, seperti isu body shaming, etika dalam berkomedi, hingga potensi pelanggaran hukum.
Alih-alih membedah substansi kritik politik yang disampaikan Pandji, media lebih banyak membingkai berita dalam bentuk konflik personal, seperti perseteruan antara Pandji dengan Tompi atau Deolipa.
Kondisi sebaliknya terjadi di media sosial. Di ruang ini, sentimen positif mendominasi dengan angka mencapai 66,1%, sementara sentimen negatif hanya berada di angka 15,2%.
Publik di media sosial justru memuji keberanian Pandji menyebut nama pejabat, institusi hukum, hingga praktik kekuasaan secara gamblang.
Warganet merasa materi dalam Mens Rea sangat relevan dan mewakili keresahan kolektif rakyat kecil terkait isu pajak, gaji pejabat yang tinggi, perilaku aparat, hingga relasi kuasa antara rakyat dan presiden.
Kesenjangan ini menunjukkan bahwa apa yang dianggap relevan oleh masyarakat akar rumput sering kali berbeda dengan apa yang dianggap layak diberitakan oleh institusi media tradisional.
Membedah Lanskap Percakapan di Berbagai Platform
Meskipun objek pembicaraannya sama, setiap platform media sosial menunjukkan karakter emosi dan dinamika konflik yang berbeda. Publik Indonesia kini tidak lagi membentuk opini di satu ruang tunggal, melainkan di beberapa "ruang gema" yang memiliki logikanya masing-masing.
1. Twitter / X: Arena Perang Narasi dan Politik Dinasti
Platform X (dahulu Twitter) menjadi ruang yang paling politis dan terpolarisasi. Dengan sentimen positif sekitar 63%, X menjadi tempat utama lahirnya narasi tandingan.
Isu utama di sini berputar pada kritik terhadap negara, aparat, dan politik dinasti. Menariknya, di platform ini pula publik mendeteksi pola mobilisasi akun atau ‘serangan seragam’ dengan narasi seperti "Pandji Darurat Ide".
Namun, publik justru membaca serangan tersebut sebagai bukti bahwa materi Pandji berhasil mengganggu kenyamanan kekuasaan.
2. Facebook: Ruang Validasi Rakyat Biasa
Facebook menampilkan wajah publik yang lebih afirmatif dengan sentimen positif melebihi 70%.
Di sini, Mens Rea dipandang sebagai bentuk pendidikan politik informal. Para pengguna Facebook merasa bangga karena capaian tayangan nomor satu di Netflix ini membuktikan bahwa suara mereka yang kritis terhadap pejabat mendapatkan panggung yang layak.
3. Instagram: Panggung Visual dan Simbol Kesuksesan
Di Instagram, percakapan lebih berfokus pada simbol keberhasilan dengan sentimen positif juga berada di kisaran 70%. Narasi yang mendominasi adalah kesuksesan Mens Rea sebagai TV Show No. 1 di Netflix Indonesia.
Kesadaran politik yang muncul di platform ini cenderung lebih ringan dan banyak dibagikan oleh kalangan penonton muda melalui potongan video yang dianggap ikonik dan berani.
4. YouTube: Ruang Refleksi dan Pencarian Makna
YouTube berfungsi sebagai ruang penalaran yang lebih panjang dengan sentimen positif 68%. Di sini, publik mencoba memahami konteks asli dari setiap bit komedi Pandji.
Perdebatan mengenai etika komedi berlangsung lebih substantif di kolom komentar YouTube dibandingkan platform lainnya, di mana orang benar-benar mencoba memilah antara mana yang satire dan mana yang merupakan provokasi.
5. TikTok: Mesin Viralitas yang Tanpa Konteks
TikTok menunjukkan sentimen positif terendah di angka 57%. Karakter platform yang mengutamakan durasi singkat membuat konteks sering kali tereduksi.
Akibatnya, isu sensitif seperti cerita tentang intel yang menyusup ke lokasi pertunjukan atau roasting terhadap figur publik seperti Gibran menjadi sangat sensasional dan mudah memicu emosi instan tanpa pendalaman argumen yang utuh.
Spektrum Emosi: Antara Tawa dan Kecemasan
Di balik gelak tawa yang dihasilkan oleh materi Mens Rea, terdapat spektrum emosi yang sangat kompleks dari para penontonnya.
Istilah Mens Rea yang dalam hukum berarti “niat jahat” seolah menjadi ironi bagi Pandji yang justru bermaksud memberikan kritik konstruktif.
Berdasarkan data emosi warganet, emosi gembira memang mendominasi dengan persentase 54,09%. Hal ini dipicu oleh rasa bangga atas karya lokal dan kekagetan karena materi seberani itu bisa tayang utuh tanpa sensor.
Namun, di sisi lain, muncul emosi cemas (13,66%), kaget (10,74%), dan takut (10,49%), sehingga muncul doa-doa agar Pandji tetap aman secara fisik dan hukum.
Cerita mengenai dugaan adanya intel di lokasi pertunjukan memperluas diskusi ke ranah kebebasan berekspresi. Publik merasa cemas jika keberanian berekspresi ini justru berujung pada kriminalisasi.
Berikut adalah rincian data emosi warganet terhadap fenomena ini:
| Emosi | Jumlah Post | Persentase |
|---|---|---|
| Gembira | 2.800 | 54,09% |
| Cemas | 707 | 13,66% |
| Kaget | 556 | 10,74% |
| Takut | 543 | 10,49% |
| Marah | 424 | 8,19% |
| Percaya | 85 | 1,64% |
| Sedih | 32 | 0,62% |
| Benci | 30 | 0,58% |
Secara keseluruhan, Mens Rea bukan lagi sekadar soal lucu atau tidak lucu. Karya ini telah bermetamorfosis menjadi ujian bagi demokrasi publik di Indonesia.
Keberanian Pandji kali ini telah membuktikan bahwa meskipun ada friksi dan polarisasi, publik masih sangat haus akan kejujuran dalam berpolitik, meskipun itu disampaikan melalui sebuah mikrofon di atas panggung komedi.
Tinggalkan Komentar
Komentar