periskop.id – Komika Pandji Pragiwaksono mengungkapkan dirinya telah menjawab 48 pertanyaan dari penyidik Bareskrim Polri seputar materi stand up comedy miliknya yang diduga bermuatan penghinaan terhadap suku Toraja.

“48 (pertanyaan diberikan kepada saya). Seputar materi stand up saya, materi dalam video saya,” kata Pandji usai menjalani pemeriksaan di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Senin (2/2).

Pandji hadir memenuhi panggilan polisi dalam kapasitasnya sebagai saksi terlapor. Ia memastikan bersikap kooperatif menjalani seluruh prosedur hukum yang berlaku sebagai konsekuensi logis dari profesinya sebagai komedian.

Sikap kooperatif tersebut ditunjukkan Pandji dengan mengikuti seluruh alur pemeriksaan tanpa banyak membantah. Ia berkomitmen menghormati proses hukum yang sedang berjalan di kepolisian.

“Saya ikutin saja prosesnya. Pokoknya saya dipanggil, saya hadir. Saya ditanya, saya jawab. Wartawan nyetop, saya berhenti,” tuturnya santai.

Sebelum pemeriksaan ini bergulir, Pandji mengaku sebenarnya telah membangun komunikasi dengan pihak pelapor. Ia sempat berdialog langsung dengan perwakilan masyarakat Toraja sebagai bentuk itikad baik.

Pertemuan tersebut diniatkan Pandji untuk mencari titik temu dan pembicaraan lebih lanjut. Namun, proses hukum tetap berjalan seiring laporan yang telah masuk ke pihak berwajib.

Kasus ini bermula dari aduan Perhimpunan Masyarakat Toraja Indonesia (PMTI) yang merasa tersinggung dengan lelucon sang komika. Mereka menilai materi komedi Pandji melecehkan adat istiadat leluhur.

Materi lawakan yang dipermasalahkan ternyata merupakan konten lama. Lelucon tersebut berasal dari pertunjukan spesial bertajuk "Mesakke Bangsaku" yang diselenggarakan pada 2013 silam.

Dalam pertunjukan tersebut, Pandji menyinggung soal ritual pemakaman adat Rambu Solo. PMTI menganggap candaan tersebut tidak pantas ditujukan pada ritual sakral masyarakat Sulawesi Selatan tersebut.

Sebagai informasi, Rambu Solo merupakan tradisi pemakaman penting bagi suku Toraja. Prosesi ini melibatkan serangkaian upacara besar, termasuk penyembelihan hewan seperti kerbau belang dan babi.

Terlepas dari polemik yang ada, Pandji menegaskan tindakannya murni didasari keinginan berkarya lewat jalur komedi tunggal. Ia menyadari setiap karya seni pasti memancing respons beragam dari publik.