periskop.id – Komika Panji Pragiwaksono mengungkapkan dirinya telah menerima masukan konstruktif dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) agar senantiasa membuka ruang perbaikan dalam setiap karya seni yang dihasilkan agar tetap relevan dan positif.
“Tadi saya diingatkan sebagai orang yang berkarya, tentu selalu ada ruang untuk jadi lebih baik lagi,” kata Panji usai menemui Ketua MUI Bidang Fatwa Asrorun Ni'am Sholeh di Kantor MUI, Jakarta Pusat, Selasa (3/2).
Pertemuan ini sengaja dilakukan untuk menjernihkan polemik seputar pertunjukan komedi tunggal bertajuk Mens Rea. Panji menegaskan komitmennya untuk terus berkarya di jalur stand-up comedy dengan tujuan utama menghibur berbagai lapisan masyarakat.
Panji menyadari tanggung jawab moral yang diemban sebagai pekerja seni. Ia berjanji akan lebih teliti mempertimbangkan perasaan publik dalam meramu materi lawakannya di masa mendatang agar pesan hiburan dapat diterima dengan baik.
“Saya punya komitmen, karena saya ingin terus berkarya dan karyanya didesain untuk menghibur sebanyak-banyaknya orang, maka karya itu harus didesain dengan mempertimbangkan perasaan sebanyak-banyaknya orang juga,” ucapnya.
Komitmen perbaikan diri ini diharapkan tidak hanya berhenti pada dirinya sendiri. Panji ingin langkah komunikasi dengan lembaga keagamaan ini menjadi preseden positif bagi rekan-rekan seprofesi di industri komedi tanah air.
Ia berharap para komika di Indonesia semakin mantap dalam berkarya tanpa rasa was-was. Kesadaran untuk terus berbenah diri harus menjadi fondasi utama dalam setiap materi yang disuguhkan ke atas panggung.
“Moga-moga ini akan membuat siapa pun komika di Indonesia untuk semakin mantap berkarya, karena tahu karya ini harus dilakukan dengan perbaikan terus-menerus,” lanjut Panji.
Dalam pertemuan tertutup tersebut, pendiri Comika ini juga memanfaatkannya untuk memaparkan maksud asli di balik materi Mens Rea. Diskusi dua arah ini dinilai sangat krusial untuk meluruskan berbagai persepsi yang beredar.
Panji merasa lega bisa menyampaikan perspektifnya langsung kepada ulama. Menurutnya, penjelasan langsung dari sang seniman sangat diperlukan untuk menjembatani beragam tafsir yang berkembang di tengah masyarakat.
“Saya senang bisa punya kesempatan untuk bertemu dan menjelaskan karena itu buat saya yang paling krusial sebagai seniman,” tuturnya.
Ia menambahkan klarifikasi langsung dapat meminimalkan kesalahpahaman. Sebuah karya seni kerap memunculkan banyak penafsiran, tapi intensi pembuatnya tetap menjadi kunci pemahaman yang utuh.
“Ketika saya bikin karya, tentu ada banyak penafsiran, tapi senimannya sendiri kan juga bisa ditanya untuk kejelasan maksud dari sebuah karya,” pungkas Panji.
Tinggalkan Komentar
Komentar