periskop.id - Tidak semua hubungan berbahaya dimulai dengan kekerasan atau ancaman. Sebagian justru diawali oleh hal-hal manis, mulai dari perhatian yang melimpah, empati, dan rasa paling dimengerti. Inilah yang membuat child grooming sering kali sulit dikenali, baik oleh korban maupun orang-orang di sekitarnya. Realitas inilah yang menjadi inti dari buku Broken Strings. Lewat tulisannya, Aurelie Moeremans menyingkap bagaimana pola manipulasi halus tersebut bekerja, menjebak korbannya bukan dengan rasa takut, melainkan dengan kenyamanan semu.

Child Grooming vs Pacaran Beda Usia: Di Mana Batasnya?

Hal pertama yang perlu diluruskan adalah definisi. Ungkapan seperti “umur hanyalah angka” tidak dapat digunakan untuk membenarkan relasi antara orang dewasa dan anak di bawah umur. Menurut psikologi, hubungan semacam ini berpotensi masuk dalam kategori child grooming, yaitu proses di mana seseorang secara bertahap membangun kedekatan emosional dan kepercayaan dengan anak atau remaja untuk tujuan eksploitasi, baik seksual, emosional, maupun finansial.

Salah satu ciri utama child grooming adalah adanya ketimpangan kuasa, misalnya perbedaan usia, kematangan psikologis, pengalaman hidup, atau kondisi ekonomi. Dalam situasi ketika satu pihak masih berusia 15 tahun dan pihak lain adalah orang dewasa, ketimpangan ini menjadi faktor risiko yang signifikan.

National Society for the Prevention of Cruelty to Children (NSPCC) menjelaskan bahwa grooming adalah proses bertahap, yaitu ketika pelaku membangun kepercayaan dan kedekatan dengan anak. Pada tahap awal, perilaku ini sering tampak wajar dan tidak berbahaya sehingga hubungan tersebut terlihat normal.

Dalam konteks hukum, Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak secara tegas menyatakan bahwa setiap orang dilarang melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, pemaksaan, tipu muslihat, rangkaian kebohongan, maupun bujukan terhadap anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul.

Oleh karena itu, relasi yang melibatkan anak di bawah umur dan orang dewasa tidak dapat dinilai semata-mata sebagai kisah romantis, melainkan perlu dilihat secara kritis melalui perspektif perlindungan anak, psikologi, dan hukum.

Membedah Pola Grooming dalam Kasus Aurelie

Berdasarkan penjelasan NSPCC, grooming bekerja sebagai proses bertahap. Dalam narasi yang disampaikan Aurelie di buku Broken Strings, pola ini dapat dibaca melalui beberapa fase berikut.

1. Fase Pembangunan Kepercayaan
Grooming kerap dimulai dari hubungan yang terlihat positif. Aurelie menceritakan perkenalannya dengan sosok Bobby ketika ia berusia 15 tahun, yang hadir dengan perhatian, empati, dan dukungan emosional. Dalam fase ini, pelaku biasanya membangun kedekatan terlebih dahulu agar anak merasa aman, nyaman, dan tidak curiga.

2. Fase Penjauhan dari Lingkungan Terdekat
Seiring hubungan berjalan, Aurelie menuliskan adanya perubahan hubungan dengan orang tua dan lingkungan sekitar. Tahap ini dipahami sebagai upaya menjauhkan korban dari keluarga atau orang-orang yang bisa memberi perlindungan sehingga ketergantungan emosional terhadap satu figur semakin kuat.

3. Fase Tekanan dan Kontrol
Pada tahap berikutnya, Aurelie menggambarkan situasi penuh tekanan, termasuk rasa takut akan konsekuensi jika menolak permintaan tertentu. NSPCC menjelaskan bahwa pada fase ini, pelaku dapat menggunakan rasa takut, rahasia, atau tekanan emosional sebagai cara untuk mempertahankan kendali atas korban.

Kisah Aurelie Moeremans dalam Broken Strings memberikan pelajaran vital bagi kita semua. Korban grooming terjerat bukan akibat kurangnya kecerdasan ataupun kenakalan remaja, melainkan karena dampak dari manipulasi psikologis yang dirancang begitu sistematis. Perpindahan halus dari rasa nyaman menuju kontrol penuh inilah yang kerap melumpuhkan kesadaran korban hingga situasi menjadi terlambat disadari.