periskop.id - Baru-baru ini, media sosial ramai membahas pengakuan pahit artis Aurélie Moeremans yang mengaku pernah menjadi korban child grooming saat usianya masih 15 tahun. Dengan jujur dan terbuka, Aurélie membagikan pengalamannya kepada publik. 

Kisah tersebut ia tuangkan dalam sebuah buku berjudul Broken Strings yang bisa diakses secara gratis melalui media sosialnya. Nah, sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan child grooming?

Apa Itu Child Grooming?

Child grooming adalah upaya seseorang untuk mendekati dan membangun kepercayaan anak yang bukan keluarganya. Tujuannya bukan sekadar menjalin hubungan, melainkan untuk membuka jalan menuju pelecehan seksual di kemudian hari.

Yang perlu diwaspadai, proses child grooming tidak terjadi secara instan. Pelaku bisa membangun kedekatan dalam waktu lama, mulai dari hitungan minggu hingga bertahun-tahun. Mereka sering kali berusaha terlihat baik, peduli, dan bisa dipercaya, bahkan oleh keluarga korban.

Pelaku child grooming biasanya bekerja dengan sangat halus, yaitu dengan berpura-pura menjadi sosok yang paling mengerti perasaan anak hingga anak merasa sangat nyaman dan spesial. Lewat perhatian yang berlebih, pelaku perlahan membangun kepercayaan penuh agar nantinya lebih mudah melakukan eksploitasi atau pelecehan. 

Dalam posisi ini, anak biasanya sulit melawan karena adanya tekanan, ancaman, atau intimidasi agar mereka tetap diam. Bahkan, pelaku sering kali menghasut anak agar merasa bahwa orang tua mereka sendiri tidak memahami mereka, dengan tujuan memutus ikatan emosional anak dengan keluarganya. 

Itulah mengapa orang tua harus sangat peka terhadap siapa pun yang mendekati anak secara tidak wajar, sebab pelaku bisa berasal dari gender mana pun dan sering kali merupakan sosok yang terlihat baik atau terpandang di masyarakat.

Tanda-Tanda Child Grooming

Ada beberapa tanda yang bisa menjadi sinyal bahwa seorang anak sedang menjadi korban child grooming. Orang tua dan orang terdekat perlu lebih peka terhadap perubahan berikut.

  • Perubahan perilaku. Anak yang biasanya ceria bisa menjadi lebih pendiam, mudah cemas, atau terlihat sedih dan tertekan tanpa alasan yang jelas.
  • Menerima hadiah yang tidak biasa. Anak tiba-tiba mendapat uang atau barang mahal, tetapi tidak bisa menjelaskan dari mana asalnya atau dari siapa pemberinya.
  • Menyembunyikan aktivitas online. Anak cenderung merahasiakan penggunaan internetnya, mengunci gawai, atau memiliki akun media sosial yang tidak diketahui oleh orang tua.
  • Anak mungkin menjalin kedekatan dengan orang dewasa yang asing bagi keluarga. Hubungan ini sering kali bersifat sangat pribadi dan dirahasiakan.
  • Prestasi akademik menurun. Anak menjadi sulit fokus, nilai sekolah menurun, atau sering bolos tanpa alasan yang jelas.

Mengenali tanda-tanda ini sejak dini sangat penting agar orang tua dapat segera mengambil langkah pencegahan dan melindungi anak dari risiko yang lebih besar.

Dampak Child Grooming

Anak yang menjadi korban child grooming biasanya akan berusaha menuruti keinginan pelaku karena ingin menyenangkan atau takut kehilangan perhatian. Kondisi ini bisa menimbulkan berbagai dampak buruk, baik pada fisik maupun kesehatan mental anak.

Beberapa dampak yang sering dialami antara lain:

  • Sulit tidur atau insomnia
  • Kesulitan fokus dan menurunnya konsentrasi di sekolah
  • Muncul rasa cemas berlebihan hingga depresi
  • Gangguan pola makan
  • Mengalami gangguan stres pasca trauma (PTSD)

Kalau grooming berlanjut hingga terjadi kekerasan seksual, anak juga berisiko terkena penyakit menular seksual.

Nggak hanya itu, korban child grooming sering menunjukkan perubahan perilaku, seperti menjadi lebih tertutup dari orang tua, mudah marah, atau sensitif ketika dilarang melakukan hal-hal yang berkaitan dengan pelaku.

Dalam beberapa kasus, pelaku bahkan memberikan alkohol atau narkoba agar anak semakin mudah dikendalikan. Hal ini tentu sangat berbahaya dan dapat merusak masa depan anak.

Upaya Pencegahan Child Grooming yang Perlu Diketahui

Untuk mencegah terjadinya child grooming, ada beberapa langkah penting yang bisa dilakukan oleh orang tua dan lingkungan sekitar anak.

  • Berikan edukasi seksual sejak dini. Anak perlu memahami bagian tubuh mana yang bersifat pribadi serta mengetahui perilaku apa saja yang tidak pantas dilakukan oleh orang lain.
  • Bangun komunikasi yang terbuka dengan anak. Biasakan anak untuk bercerita tentang apa pun yang mereka alami atau rasakan tanpa takut dimarahi atau dihakimi.
  • Lakukan pengawasan terhadap aktivitas online anak. Pantau penggunaan internet dan media sosial, sekaligus beri pemahaman tentang risiko dan bahaya yang bisa muncul di dunia digital.
  • Selain itu, anak juga perlu diajarkan untuk mengenali tanda-tanda bahaya, seperti sikap orang dewasa yang mencurigakan, terlalu posesif, atau meminta anak merahasiakan sesuatu.

Jika muncul kecurigaan atau terjadi kejadian yang mengarah pada child grooming, segera lakukan pelaporan ke pihak berwenang atau lembaga perlindungan anak agar dapat ditangani dengan tepat.

Dengan memahami apa itu child grooming, mengenali ciri-cirinya, dampaknya, serta cara pencegahannya, kita bisa lebih waspada dan berperan aktif dalam melindungi anak-anak dari ancaman ini.