periskop.id - Industri hiburan Korea Selatan sedang berada di puncak kejayaannya di Indonesia, tapi loyalitas penggemar kini menghadapi ujian baru, yaitu cancel culture. Berdasarkan laporan Jakpat berjudul Korean Drama Trends in Indonesia (2025), ada pergeseran besar dalam cara penonton menyikapi kehidupan pribadi para aktor. Jika dahulu kualitas akting adalah satu-satunya tolok ukur, kini integritas personal menjadi paket yang tak terpisahkan dari sebuah karya. Sejauh mana skandal pribadi benar-benar bisa mematikan rating sebuah drama? Berikut ulasannya.

Skandal Seksual dan Narkoba Jadi Sorotan Utama

Tidak semua kesalahan publik figur dipandang sama oleh masyarakat. Data menunjukkan adanya hierarki sensitivitas terhadap jenis masalah yang menimpa aktor atau aktris Korea. Skandal seksual menempati urutan pertama sebagai isu yang paling merusak reputasi, dengan 81% responden sepakat bahwa hal tersebut sangat memengaruhi pandangan mereka. Angka ini jauh melampaui jenis masalah lainnya, menunjukkan bahwa nilai etika moral sangat dijunjung tinggi oleh penonton di Indonesia.

Selain isu seksual, penyalahgunaan narkoba menjadi perhatian besar bagi 63% responden, diikuti oleh kekerasan fisik maupun verbal sebesar 59%. Isu lain seperti prostitusi (58%), perselingkuhan (57%), perilaku tidak profesional (54%), hingga perundungan atau bullying di masa lalu (54%) juga turut memberikan dampak negatif pada citra sang artis. 

Menariknya, meskipun isu perundungan sering viral di media sosial, dampaknya terhadap reputasi secara keseluruhan masih berada di bawah skandal seksual dan narkoba. Hal ini mencerminkan bahwa penonton memiliki batas toleransi tertentu sebelum memutuskan untuk menarik dukungan mereka sepenuhnya dari sang aktor.

Gen Z vs Milenial: Siapa yang Paling Cepat Meninggalkan Aktor Bermasalah?

Terdapat perbedaan mencolok antara generasi muda dan dewasa dalam menyikapi perilaku publik figur. Gen Z cenderung jauh lebih sensitif terhadap skandal pribadi para pemain drakor. Sebanyak 37% dari kelompok usia ini mengaku minat mereka akan langsung menurun jika sang aktor terlibat masalah, bahkan 22% di antaranya secara tegas memilih untuk berhenti menonton drama tersebut dan berhenti mengikuti sang artis di media sosial. Bagi mereka, integritas personal seorang idola merupakan paket yang tidak terpisahkan dari karya yang dihasilkan.

Kondisi berbeda terlihat pada kelompok Milenial. Sebanyak 50% responden dari generasi ini cenderung memiliki batas yang jelas antara karya seni dan kehidupan pribadi. Mereka tetap bersedia menonton drama selama alur ceritanya berkualitas, tanpa terlalu memusingkan masalah yang sedang menimpa aktornya. 

Hal ini menunjukkan bahwa Milenial lebih mengedepankan nilai hiburan dari sebuah karya dibandingkan sikap moral sang pemeran. Perbedaan sudut pandang ini menciptakan dinamika unik di pasar Indonesia. Sebuah drama masih mungkin sukses secara rating meskipun pemerannya sedang tersandung masalah, selama basis penonton dewasanya tetap setia.

Kekuatan Alur Cerita Mengalahkan Popularitas Aktor

Meskipun skandal dapat menggoyang loyalitas, alur cerita tetap menjadi raja dalam ekosistem drakor di Indonesia. Alasan utama orang menonton drama Korea adalah karena cerita yang menarik (82%), disusul oleh karakter yang unik (62%), dan barulah karena faktor aktor atau aktris favorit (58%). 

Data ini menjadi angin segar bagi industri produksi karena menunjukkan bahwa kualitas konten memiliki daya tahan yang lebih kuat dibandingkan sekadar menjual nama besar pemeran utama. Penonton Indonesia terbukti cukup kritis dalam menilai sebuah tayangan secara objektif.

Faktanya, alasan terbesar penonton berhenti menyaksikan sebuah judul drama di tengah jalan bukan karena skandal, melainkan karena cerita yang membosankan (65%) atau plot yang terasa lambat (46%). Bahkan, 70% penonton pernah mengalami fenomena second lead syndrome, yaitu ketika mereka lebih menyukai karakter pendukung dibandingkan pemeran utama. 

Hal ini memperkuat bukti bahwa penonton Indonesia sangat peduli pada kedalaman karakter dan perkembangan cerita. Jika sebuah drama memiliki naskah yang kuat, gangguan eksternal seperti masalah pribadi pemainnya tidak akan sepenuhnya mematikan minat publik selama kualitas tayangan tersebut tetap terjaga.

Hubungan Erat Antara Integritas Aktor dan Citra Brand

Pengaruh drama Korea tidak berhenti pada durasi menonton, melainkan berlanjut hingga perilaku konsumsi. Paparan produk atau product placement (PPL) dalam drakor memiliki efektivitas yang sangat tinggi di Indonesia. 

Produk kecantikan dan skincare menjadi yang paling sering disadari oleh 71% penonton, diikuti oleh makanan dan minuman dalam kemasan sebanyak 67%. Sebanyak 45% responden secara terang-terangan mengaku tertarik untuk membeli produk yang digunakan oleh aktor atau aktris favorit mereka.

Keterikatan emosional ini membuat skandal menjadi risiko besar bagi pemilik merek atau brand. Ketika seorang aktor tersandung masalah, bukan hanya loyalitas menonton yang terancam, tetapi juga minat belanja konsumen terhadap produk yang mereka bintangi. 

Mengingat Gen Z adalah kelompok yang paling ekspresif di media sosial setelah menonton drama, pergeseran persepsi mereka akibat skandal dapat berdampak instan pada citra produk. Oleh karena itu, hubungan antara penonton, aktor, dan produk merupakan ekosistem yang saling berkaitan erat. Pemilihan figur publik yang bersih dari masalah tetap menjadi strategi kunci bagi pelaku bisnis untuk mengonversi popularitas drama menjadi keuntungan ekonomi yang nyata.