Periskop.id - Isu kecukupan gizi anak sekolah kini resmi menjadi agenda besar di berbagai belahan dunia. Melansir World Visualized pada Selasa (10/3/2026), program pemberian makan di sekolah kini dipandang sebagai instrumen vital untuk memerangi kelaparan sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan.
Data global yang dihimpun dari World Food Programme (WFP) dan otoritas pendidikan nasional menunjukkan bahwa ratusan juta anak kini menggantungkan asupan gizi harian mereka pada program pemerintah.
Negara berkembang dan ekonomi emerging tercatat mendominasi daftar dengan jumlah penerima manfaat terbesar. Hal ini menunjukkan bahwa investasi pada nutrisi siswa dianggap sebagai kunci utama dalam mendorong perkembangan kognitif dan kehadiran siswa di kelas.
India saat ini mengoperasikan program makan sekolah terbesar di dunia yang menjangkau sekitar 118 juta anak. Program yang kini dikenal dengan nama PM POSHAN (sebelumnya Midday Meal Scheme) menyediakan makanan matang setiap hari bagi siswa sekolah dasar dan menengah di sekolah negeri di seluruh pelosok India.
Menariknya, Indonesia menempati peringkat kedua secara global dalam skala pemberian makan sekolah. Berdasarkan data terbaru per 3 Maret 2026, total penerima manfaat di tanah air mencapai 61,2 juta jiwa. Angka tersebut mencakup sekitar 49 juta siswa yang menerima makanan khusus di lingkungan sekolah.
Pemerintah Indonesia dilaporkan terus memperluas jangkauan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan tujuan strategis mengatasi permasalahan stunting pada anak.
Di Indonesia, program MBG ini dipandang sebagai alat ganda untuk memutus rantai kemiskinan sekaligus menjawab tantangan pendidikan secara bersamaan guna meningkatkan hasil belajar siswa di masa depan.
Dampak positif dari inisiatif ini bukan sekadar memberikan rasa kenyang. Para ahli dari WFP menegaskan bahwa kaitan antara nutrisi dan kecerdasan anak sangatlah erat.
“Program makan sekolah meningkatkan kehadiran, mengurangi malnutrisi, dan mendukung perkembangan kognitif,” jelas WFP dalam tinjauan globalnya.
Kutipan tersebut menegaskan bahwa tanpa asupan gizi yang stabil, proses pembelajaran di sekolah tidak akan berjalan maksimal karena perkembangan otak dan konsentrasi anak akan terganggu.
Model Inovatif di Berbagai Negara
Selain India dan Indonesia, sejumlah negara besar lainnya juga menjalankan sistem serupa dengan pendekatan yang unik:
- Brasil: Melalui Programa Nacional de Alimentação Escolar (PNAE), Brasil mengintegrasikan makan sekolah dengan pemberdayaan petani lokal. Sistem ini mewajibkan sebagian bahan pangan sekolah dibeli langsung dari rantai pasok pertanian daerah setempat.
- Amerika Serikat: National School Lunch Program yang dikelola oleh Departemen Pertanian (USDA) telah lama menyediakan makanan gratis atau bersubsidi bagi puluhan juta anak di Negeri Paman Sam.
- Nigeria: Dengan program National Home-Grown School Feeding Programme, Nigeria tidak hanya memberi makan hampir 10 juta anak, tetapi juga menciptakan pasar yang stabil bagi para petani lokal.
- Kawasan Afrika: Negara-negara seperti Ethiopia, Tanzania, Kenya, dan Malawi secara agresif memperluas jangkauan gizi untuk mengatasi kerawanan pangan kronis di wilayah mereka.
Daftar 15 Negara dengan Penerima Makan Sekolah Terbanyak (2026)
Berikut adalah rincian jumlah penerima manfaat program makan sekolah di berbagai negara berdasarkan data kolektif WFP:
| Peringkat | Negara | Jumlah Penerima Manfaat |
|---|---|---|
| 1 | India | 118.000.000 |
| 2 | Indonesia | 61.239.037 |
| 3 | Brasil | 38.531.387 |
| 4 | Tiongkok | 34.570.000 |
| 5 | Amerika Serikat | 30.100.000 |
| 6 | Rusia | 18.049.000 |
| 7 | Mesir | 13.700.000 |
| 8 | Pakistan | 10.041.132 |
| 9 | Nigeria | 9.990.862 |
| 10 | Prancis | 9.563.276 |
| 11 | Afrika Selatan | 9.322.860 |
| 12 | Jepang | 9.258.701 |
| 13 | Ethiopia | 6.911.733 |
| 14 | Tanzania | 6.883.911 |
| 15 | Korea Selatan | 6.307.298 |
Tinggalkan Komentar
Komentar