periskop.id - Persaingan gelar juara Super League musim 2025/2026 kini memasuki fase yang sangat krusial, di mana Persija Jakarta kembali muncul sebagai penantang serius setelah menunjukkan performa impresif di penghujung musim.
Keberhasilan Macan Kemayoran melumat Persis Solo dengan skor telak empat gol tanpa balas pada akhir April lalu bukan sekadar tambahan tiga poin, melainkan sebuah pernyataan mental bahwa mereka siap bertarung hingga tetes keringat terakhir.
Meskipun saat ini Persija masih tertahan di posisi ketiga dengan koleksi 62 poin, harapan untuk mengudeta Persib Bandung dan Borneo FC yang berada di puncak klasemen dengan 69 poin masih terbuka secara matematis, meski jalannya terjal dan penuh liku.
Selisih tujuh poin dari Persib Bandung dan Borneo FC adalah defisit yang sangat lebar untuk dikejar hanya dalam empat pertandingan, mengingat kedua rival tersebut menunjukkan konsistensi luar biasa sepanjang musim.
Persija saat ini berada dalam posisi di mana mereka tidak lagi memegang kendali atas nasibnya sendiri. Meskipun berhasil menyapu bersih poin maksimal di sisa laga, mereka tetap bergantung pada hasil dari dua tim di atasnya.
Skenario juara bagi Macan Kemayoran mengharuskan adanya keruntuhan kolektif dari Persib Bandung dan Borneo FC, sebuah anomali yang jarang terjadi di level kompetisi setinggi ini.
Secara teknis, kunci dari perlawanan terakhir ini terletak pada "partai hidup mati" melawan Persib Bandung di pekan ke-32. Laga ini bukan sekadar perebutan gengsi, melainkan ajang adu mekanik taktis.
Namun, sekadar menang atas Persib saja tidak cukup. Anak asuh Mauricio Souza wajib menyapu bersih laga kontra Persijap, Persik Kediri, dan Semen Padang dengan raihan poin maksimal sembari berharap Persib dan Borneo FC tergelincir setidaknya dalam dua pertandingan mereka.
Pada akhirnya, peluang Persija Jakarta untuk mengangkat trofi musim ini sangat bergantung pada kemampuan mereka mengendalikan nasib sendiri sambil menanti keajaiban dari hasil pertandingan tim lain.
Jika mereka mampu mempertahankan momentum kemenangan dan menunjukkan mentalitas juara di setiap menit pertandingan yang tersisa, sejarah manis bisa saja terulang.
Namun, jika mereka sedikit saja lengah di laga-laga yang terlihat mudah, maka mimpi untuk merayakan gelar di Jakarta harus tertunda lagi.
Musim ini akan ditentukan oleh siapa yang paling dingin kepalanya saat menghadapi tekanan di lapangan hijau hingga peluit akhir pekan ke-34 ditiupkan.
Tinggalkan Komentar
Komentar