Periskop.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sektor manufaktur Indonesia masih berada dalam fase ekspansi pada kuartal II 2026. Meski aktivitas produksi dan pesanan meningkat, perusahaan justru mulai mengurangi laju perekrutan karyawan.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud menyampaikan, Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis Manufaktur (IKBM) pada periode tersebut tercatat sebesar 52,31. Angka di atas 50 menandakan industri manufaktur masih berada di zona ekspansi, bahkan menguat dibandingkan kuartal sebelumnya.

"Pada kuartal II tahun 2026, IKBM tercatat sebesar 52,31 yang menunjukkan sektor industri manufaktur berada pada fase ekspansi dan menguat dibandingkan dengan kuartal sebelumnya," ujar Edy dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (5/8).

Di balik penguatan tersebut, BPS menemukan sinyal perlambatan pada penyerapan tenaga kerja di sektor manufaktur. Dari lima komponen penyusun IKBM, hanya komponen tenaga kerja dan waktu kirim yang mengalami kontraksi pada kuartal II 2026.

Padahal, menurut Edy, komponen tenaga kerja masih mencatat ekspansi pada kuartal sebelumnya. Perubahan arah ini menjadi indikasi perusahaan lebih berhati-hati menambah karyawan baru meski permintaan produk manufaktur terus bertumbuh.

"Secara komponen, produksi, pesanan, dan stok mengalami ekspansi, sedangkan komponen tenaga kerja dan waktu kirim mengalami kontraksi di triwulan II 2026," kata Edy.

Ia menambahkan, komponen tenaga kerja mengalami perubahan arah pada kuartal II 2026 setelah sebelumnya sempat ekspansi di kuartal I 2026.

Di sisi lain, industri pengolahan tetap menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II 2026. Sektor ini menyumbang andil 0,90 poin terhadap pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,29% secara tahunan.

BPS menyebutkan, pertumbuhan industri pengolahan didorong oleh naiknya permintaan dari dalam maupun luar negeri. Industri makanan dan minuman tumbuh 6,51%, ditopang meningkatnya permintaan produk olahan seperti ikan, daging ayam, susu, dan produk turunannya.

Industri barang logam, komputer, barang elektronik, optik, dan peralatan listrik tumbuh 8,04% seiring naiknya permintaan ekspor komponen elektronik, baterai, dan peralatan listrik. Sementara industri kimia, farmasi, dan obat tradisional tumbuh 4,99% karena naiknya permintaan bahan kimia di pasar domestik maupun internasional.

Data BPS secara keseluruhan menunjukkan sektor manufaktur masih menjadi salah satu penopang utama ekonomi nasional. Kontraksi pada komponen tenaga kerja mengindikasikan perusahaan menahan ekspansi perekrutan meski aktivitas produksi dan permintaan masih berada dalam tren positif.