Proyek Vanda Solar & Battery di Kepri Diproyeksikan Serap 60.000 Pekerja, Investasi US$4,5 Miliar
Proyek Vanda Solar & Battery di Kepri berpotensi menciptakan 60.000 lapangan kerja dengan investasi US$4,5 miliar dan PLTS berkapasitas 2 GWp

Periskop.id - Proyek energi hijau Vanda Solar & Battery di Kepulauan Riau diproyeksikan menciptakan hingga 60.000 lapangan kerja di berbagai rantai pasok Indonesia. Proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan baterai berskala besar tersebut juga membawa potensi investasi asing langsung senilai US$4,5 miliar.
Country Manager Indonesia Gurīn Energy Enda Ginting mengatakan penyerapan tenaga kerja tidak hanya diperkirakan terjadi di Kepulauan Riau, tetapi juga menyebar ke daerah yang terhubung dengan rantai pasok industri panel surya, baterai, konstruksi, hingga infrastruktur pendukung.
"Yang lebih penting, penciptaan 60.000 lapangan kerja di berbagai rantai pasok di Indonesia, mencakup Kepulauan Riau, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan wilayah Indonesia lainnya," ujar Country Manager Indonesia Gurīn Energy Enda Ginting di Kabupaten Tangerang, Banten pada Rabu.
PLTS 2 GWp dan Baterai 4,4 GWh Dibangun di Kepri
Vanda Solar & Battery dirancang sebagai proyek PLTS berkapasitas 2 gigawatt peak (GWp) yang dipadukan dengan sistem penyimpanan energi baterai atau Battery Energy Storage System (BESS) sebesar 4,4 gigawatt hour (GWh).
Gurīn Energy menyebut kapasitas tersebut menempatkan Vanda sebagai salah satu proyek tenaga surya dan penyimpanan energi terbesar yang direncanakan di dunia. Proyek dikembangkan di Indonesia dan dirancang untuk memasok listrik rendah karbon ke Singapura.
Energi yang dihasilkan PLTS pada siang hari akan disimpan dalam baterai sehingga pasokan listrik dapat tetap tersedia ketika matahari tidak bersinar. "Jadi, kita menangkap energi sebanyak mungkin di siang hari, lalu menyimpannya di baterai untuk digunakan saat malam hari, dan kemudian mengalirkannya menggunakan kabel bawah laut dari Sugie, Indonesia hingga ke Singapura," katanya.
Berdasarkan data Energy Market Authority (EMA) Singapura, Vanda RE telah memperoleh Conditional Licenceuntuk mengimpor listrik rendah karbon sebesar 300 megawatt (MW) dari Indonesia. Lisensi bersyarat tersebut diberikan pada September 2024 setelah proyek sebelumnya mendapatkan persetujuan bersyarat pada 2023.
Investasi Langsung US$4,5 Miliar
Selain penciptaan tenaga kerja, proyek Vanda diperkirakan membawa investasi asing langsung atau Foreign Direct Investment (FDI) hingga US$4,5 miliar. "Ini merupakan investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) yang nilainya setara hingga US$4,5 miliar di bawah Proyek Vanda. Dari sisi nilai tambah selama masa konstruksi dan pengembangan, proyek ini diperkirakan mendatangkan hingga US$10 miliar," tuturnya.
Menurut Enda, dampak langsung lainnya berupa potensi tambahan penerimaan pajak pemerintah senilai US$1,76 miliar.
Perusahaan juga berupaya membangun rantai pasok di dalam negeri. Pada 2025, Vanda RE menandatangani kesepakatan dengan LONGi untuk memasok hingga 1 GW panel surya, sedangkan CATL akan menyediakan hingga 2,2 GWh sistem penyimpanan baterai. Kedua kerja sama itu dirancang untuk membantu proyek memenuhi ketentuan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
"Hal krusial yang perlu kami tekankan kembali adalah proyek ini mendukung visi pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai hub energi terbarukan di Asia Tenggara. Kita biasanya mengaitkannya dengan program hilirisasi, tetapi ini juga sejalan dengan niat pemerintah Indonesia yang menginginkan adanya manufaktur panel surya Tier-1 di Indonesia untuk kepentingan program-program nasional," ujarnya.
Kepri Disiapkan Jadi Pusat Industri Hijau
Pengembangan Vanda juga sejalan dengan rencana pemerintah menjadikan kawasan Batam, Bintan, dan Karimun (BBK) sebagai pusat industri hijau dan berteknologi tinggi.
Kementerian ESDM pada Maret 2026 menyatakan ekspor listrik bersih ke Singapura diarahkan tidak hanya sebagai perdagangan energi, tetapi juga sebagai instrumen untuk menarik industri global masuk ke Kepulauan Riau.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah ingin pembangunan kawasan industri tersebut berjalan beriringan dengan pengembangan energi bersih.
"Saya sudah mendapat laporan bahwa kawasan industri sudah hampir final. Nanti kita akan bangun di wilayah Kepulauan Riau (Kepri)," ujar Bahlil.
Pada Januari 2026, PT Vanda Energy Indonesia juga telah menandatangani nota kesepahaman dengan Pemerintah Kabupaten Karimun. Kerja sama mencakup pengembangan infrastruktur, perizinan, ketenagakerjaan, dan penyediaan energi bersih untuk mendukung pengembangan proyek di Pulau Sugi.
Ekspor Listrik Masih Tunggu Finalisasi
Meski proyek terus berkembang, realisasi perdagangan listrik lintas negara Indonesia-Singapura belum sepenuhnya rampung. Kementerian ESDM pada Juli 2026 menyatakan kedua negara masih bernegosiasi mengenai harga listrik. Pemerintah menegaskan kesepakatan tersebut harus memberikan manfaat ekonomi yang seimbang bagi Indonesia dan Singapura.
"Kita ingin ada win-win, saling menguntungkan. Kerja sama itu harus saling menguntungkan kedua pihak," kata Bahlil.
Indonesia dan Singapura sendiri telah membangun kerangka kerja sama energi rendah karbon sejak 2022 hingga 2023. EMA sebelumnya memberikan lisensi bersyarat kepada lima proyek berbasis Indonesia dengan total rencana impor 2 GW, termasuk Vanda RE sebesar 300 MW.
Dengan kombinasi PLTS 2 GWp, baterai 4,4 GWh, investasi miliaran dolar AS dan target penyerapan puluhan ribu pekerja, Proyek Vanda berpotensi menjadi salah satu proyek penting dalam pengembangan industri energi hijau Indonesia. Namun, realisasinya tetap bergantung pada penyelesaian perizinan, kesepakatan perdagangan listrik, serta pembangunan rantai pasok industri di dalam negeri.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Solar, investasi, baterai, dan energi terbarukan dengan mengeklik tautan.



Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.