Iklan
Politik

Kalau Pemilu Hari Ini, PAN dan PKS Tertahan di Bawah Ambang Batas

PAN tak pernah menyentuh 4% dalam lima survei Poltracking. PKS baru kali ini tergelincir ke bawah garis itu.

Peneliti Poltracking Indonesia Yoki Alvetro memaparkan hasil survei nasional "Membaca Peta Elektoral dan Dinamika Partai Politik" di studio Poltracking TV, Rabu (23/9).
Peneliti Poltracking Indonesia Yoki Alvetro memaparkan hasil survei nasional "Membaca Peta Elektoral dan Dinamika Partai Politik" di studio Poltracking TV, Rabu (23/9). Periskop.id/Tangkapan layar YouTube Poltracking TV
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Poltracking Indonesia mencatat Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) berada di bawah ambang batas parlemen 4% dalam simulasi surat suara Agustus 2026. Keduanya merupakan partai penghuni Senayan saat ini.

Peneliti Poltracking Indonesia Yoki Alvetro memaparkan, PAN meraih 3,4% dan PKS 3,3% dalam simulasi tersebut. Menurutnya, PKS bahkan sempat berada jauh di atas angka itu sebelum melemah dalam survei terbaru.

"Partai PKS sempat di angka 5,6%, fluktuatif dan sedikit menurun di angka 3,3%," ujar Yoki dalam rilis survei nasional "Membaca Peta Elektoral dan Dinamika Partai Politik" di studio Poltracking TV, Rabu (23/9).

Berdasarkan data Poltracking, PKS selalu berada di atas 4% dalam empat survei sebelumnya. Partai itu tercatat 5,6% pada Oktober 2025, lalu naik ke 5,9% pada Maret 2026.

Elektabilitas PKS kemudian melemah ke 4,9% pada Mei dan 4,8% pada Juli. Survei Agustus menjadi kali pertama partai itu turun ke bawah garis 4% dalam lima survei tersebut.

Simulasi Poltracking, PAN 3,4% dan PKS 3,3% di Bawah Syarat 4%
Simulasi Poltracking, PAN 3,4% dan PKS 3,3% di Bawah Syarat 4%

Kondisi PAN berbeda. Dalam catatan Poltracking, PAN belum pernah menyentuh 4% sejak Oktober 2025, dengan capaian tertinggi 3,9% dan angka yang bergerak di kisaran 2% hingga 3,5% sesudahnya.

Simulasi itu menanyakan partai atau caleg yang akan dipilih responden jika mereka berada di bilik suara saat survei berlangsung. Dari 18 partai dalam surat suara, hanya enam yang melewati garis 4%.

Keenam partai itu yakni Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dengan 23,2% dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dengan 11,6%. Berikutnya Partai Golongan Karya (Golkar) 10,4%, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) 6,2%, Partai Demokrat 6,1%, dan Partai NasDem 4,4%.

PAN tercatat kurang 0,6 poin dari syarat tersebut, sedangkan PKS kurang 0,7 poin. Posisi keduanya berdempetan di urutan ketujuh dan kedelapan.

NasDem juga belum sepenuhnya aman. Partai itu memang masih di atas garis, tapi elektabilitasnya tergerus dari 6,0% pada Oktober 2025 menjadi 4,4% pada Agustus.

Di bawah PAN dan PKS, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) meraih 2,3% dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) 1,9%. Delapan partai lainnya, menurut Poltracking, masih di bawah 1%.

Ironisnya, aturan 4% itu sendiri belum banyak dipahami pemilih. Poltracking mencatat hanya 17,7% responden yang tahu syarat tersebut, sementara 64,7% mengaku tidak tahu.

"Ini cukup banyak yang tidak tahu tentang ambang batas parlemen ini ketika kita tanyakan ke publik," kata Yoki.

Dari responden yang tahu, sebanyak 49,0% ingin ambang batas tetap di angka 4%. Yoki menyebut porsi itu hampir mayoritas.

Pilihan lain tersebar lebih tipis. Sebanyak 14,8% menginginkan ambang batas di atas 7%, 7,6% memilih 6%, dan 6,1% meminta ambang batas dihapus, sementara 5,3% memilih 7% dan 5,0% ingin di bawah 4%.

Yoki menjelaskan, opsi yang diukur kali ini berkisar pada angka 4%, 7%, di bawah 4%, hingga penghapusan ambang batas. Angka 5% belum masuk dalam pilihan jawaban responden.

Survei tatap muka ini digelar pada 14 hingga 20 Agustus 2026 dengan melibatkan 1.220 responden di 38 provinsi. Poltracking memakai metode multistage random sampling dengan margin of error ±2,9% pada tingkat kepercayaan 95%.

Peneliti Poltracking Indonesia Muhammad Aditya Pradana mengingatkan, hasil survei ini merupakan potret pada satu titik waktu. Persepsi publik, katanya, masih bisa berubah seiring perkembangan isu dan kinerja politik.

"Inilah gambaran publik kita tentang isu parliamentary threshold atau ambang batas parlemen kita yang sedang bergulir saat ini," pungkas Yoki.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai poltracking, PAN, Fraksi PKS, dan ambang batas parlemen dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.