Periskop.id - Kesadaran masyarakat Indonesia dalam berinvestasi pada instrumen negara menunjukkan pertumbuhan yang sangat positif.
Berdasarkan laporan terbaru yang disampaikan dalam acara Konferensi Pers APBN Kita Edisi Januari 2026 pada Kamis (8/1), jumlah investor Surat Berharga Negara (SBN) Ritel telah mencapai tonggak sejarah baru.
Pemerintah mencatat bahwa sejak penggunaan sistem single investor identification (SID) diterapkan dalam transaksi SBN Ritel, total investor yang terlibat telah melampaui angka 500 ribu SID.
Namun, jika akumulasi dihitung sejak awal masa penerbitan pada tahun 2016 hingga posisi Desember 2025, total investor SBN Ritel di Indonesia telah mencapai angka fantastis, yaitu sebanyak 1.018.925 orang.
Angka ini mencerminkan kepercayaan publik yang semakin tinggi terhadap keamanan dan keuntungan berinvestasi pada instrumen yang dijamin oleh negara.
Pergeseran Demografi: Generasi Muda Menguasai Pasar
Hal yang paling menarik dari paparan Kementerian Keuangan kali ini adalah pergeseran demografi investor.
Saat ini, instrumen investasi pemerintah tidak lagi hanya didominasi oleh kelompok mapan secara usia, melainkan telah merambah ke generasi yang lebih muda. Generasi Milenial muncul sebagai kekuatan utama di pasar SBN Ritel.
Berdasarkan data profil investor yang dirilis, berikut adalah rincian proporsi kepemilikan SBN Ritel berdasarkan klasifikasi generasi:
- Milenial (Kelahiran 1980 sampai 2000)
Menjadi kelompok dominan dengan kontribusi sebesar 50%.
Angka ini menunjukkan bahwa setengah dari total investor negara berasal dari kalangan milenial yang sudah mulai sadar akan pentingnya perencanaan keuangan jangka panjang. - Generasi X (Kelahiran 1965 sampai 1979)
Menempati posisi kedua dengan proporsi sebesar 29%. - Baby Boomers (Kelahiran 1946 sampai 1964)
Menyumbang sebesar 14% dari total investor. - Generasi Z (Kelahiran di atas tahun 2000)
Meski tergolong baru masuk ke dunia kerja, generasi ini sudah menyumbang 6%.
Angka ini diprediksi akan terus tumbuh seiring dengan meningkatnya literasi keuangan digital di kalangan anak muda. - Tradisionalis (Kelahiran 1928 sampai 1945)
Kelompok senior ini tetap berkontribusi meskipun dengan persentase kecil, yaitu sebesar 1%.
Tinggalkan Komentar
Komentar