iklan periskop
Investasi

Investasi Hilirisasi RI Tembus Rp584,1 T, Singapura Salip China sebagai Investor Terbesar

Investasi hilirisasi Indonesia pada 2025 mencapai Rp584,1 triliun atau naik 43,3% yoy, didominasi PMA dengan Singapura sebagai investor terbesar.

6 bulan yang lalu · 2 mnt baca
Investasi Hilirisasi RI Tembus Rp584,1 T, Singapura Salip China sebagai Investor Terbesar
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani dalam saat memaparkan Capaian Realisasi Investasi Tahun 2025 di Kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Jakarta Selatan, Kamis (15/1). Foto: Periskop/Arief Rachman
Ukuran teks
Sedang

periskop.id - Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslan melaporkan investasi hilirisasi di Indonesia menorehkan pencapaian luar biasa pada 2025. Nilainya mencapai Rp584,1 triliun, atau naik 43,3% dibandingkan tahun sebelumnya.

"Angka ini setara 30,2% dari total realisasi investasi nasional, menegaskan tren penguatan sektor hilirisasi yang kian diminati investor," ucap Rosan dalam konferensi pers Capain Kinerja Investasi 2025 di Jakarta, Kamis (15/1).

Rosan melaporkan negara tetangga RI yakni Singapura muncul sebagai investor hilirisasi terbesar pertama, mengungguli China dan negara lain. Adapaun, total investasi dari Singapura mencapai US$7,9 miliar, diikuti Hongkong US$6,2 miliar.

Sementara di posisi berikutnya ditempati oleh China dengan total US$4,8 miliar, Malaysia US$3 miliar, dan Amerika Serikat US$1,6 miliar.

Namun, Rosan mengklaim mayoritas investasi hilirisasi ini masih ditopang oleh penanaman modal asing (PMA) mencapai 73,5% atau Rp429,6 triliun, sementara sisanya berasal dari penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp154,5 triliun.

Rosan menjelaskan, hilirisasi tidak lagi hanya terfokus pada mineral, tetapi mulai melebar ke perkebunan dan kelautan, termasuk investasi pada komoditas seperti tuna, cakalang, dan tongkol.

Dengan sektor mineral tetap menjadi favorit mencapai nilai investasi mencapai Rp373,1 triliun. Namun, sektor perkebunan dan kehutanan kini mulai menunjukkan lonjakan signifikan mencapi Rp144,5 triliun, diikuti migas Rp60 triliun, serta perikanan dan kelautan Rp6,4 triliun.

"Hilirisasi di perkebunan mungkin nilainya tidak sebesar mineral, tapi penciptaan lapangan kerja jauh lebih besar,” ujarnya.

Adapun, teknologi tetap menjadi faktor utama dominasi PMA di sektor mineral. Beberapa perusahaan asal China bahkan melakukan riset dan pengembangan di Indonesia dengan hak paten lokal, terutama di bidang daur ulang mineral, yang akan direalisasikan tahun ini.

"Kebijakan insentif terbaru mendorong investor tidak hanya menanam modal, tetapi juga mentransfer pengetahuan dan teknologi, sehingga hilirisasi menciptakan nilai tambah nyata bagi Indonesia," tutup Rosan.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Kementerian Investasi dan Hilirisasi / BKPM, investor global, dan hilirisasi dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.