periskop.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa rencana Amerika Serikat untuk menambahkan kenaikan tarif sebesar 25% bagi negara yang melakukan transaksi dengan Iran tidak akan berdampak signifikan terhadap Indonesia.

‎Menurut Airlangga, nilai transaksi Indonesia dengan Iran relatif kecil, sehingga kebijakan tersebut tidak menjadi risiko besar bagi tarif AS. 

‎"Tidak ada, kita transaksi dengan Iran tidak besar,” ujar Airlangga kepada media, Jakarta, Selasa (13/1).

‎Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penerapan tarif sebesar 25% terhadap barang-barang yang berasal dari negara-negara yang masih menjalin hubungan perdagangan dengan Iran. 

‎Melansir dari BBC, Trump menyatakan langkah ini diambil untuk meningkatkan tekanan terhadap Teheran, seiring berlanjutnya gelombang protes anti-pemerintah di Iran yang telah memasuki pekan ketiga. 

‎"Negara mana pun yang berbisnis dengan Republik Islam Iran akan dikenakan tarif 25% untuk semua bisnis yang dilakukan dengan Amerika Serikat," tulis Trump di Truth Social.

‎Namun, Trump tidak merinci secara jelas kriteria negara yang dianggap “melakukan bisnis” dengan Iran. Saat ini, China tercatat sebagai mitra dagang terbesar Iran, disusul oleh Irak, Uni Emirat Arab, Turki, dan India.

‎Pemberlakuan tarif tersebut muncul di tengah meningkatnya tensi antara Washington dan Teheran. Sebelumnya, Trump juga menyampaikan ancaman akan melakukan intervensi militer jika pemerintah Iran melakukan tindakan keras terhadap para demonstran.

‎Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa opsi militer, termasuk kemungkinan serangan udara, masih berada dalam pertimbangan pemerintah Amerika Serikat. ‎Gedung Putih pun tidak memberikan informasi tambahan tentang tarif tersebut, termasuk impor dari negara mana yang akan paling terkena dampaknya.

‎Kemarahan atas anjloknya nilai mata uang Iran, rial, memicu protes pada akhir Desember, yang telah berkembang menjadi krisis legitimasi bagi Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.