periskop.id - Bank Indonesia (BI) melaporkan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) menunjukkan kinerja dunia usaha pada kuartal IV 2025 tetap stabil. Hal itu tercermin dari nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 10,61%.

“Mayoritas lapangan usaha mencatat kinerja positif, dengan SBT tertinggi pada sektor jasa keuangan, perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan motor, industri pengolahan, administrasi pemerintahan, informasi dan komunikasi, serta penyediaan akomodasi dan makan minum,” tulis Ramdan dalam keterangan resmi, Senin (19/1).

Menurut Ramdan, momentum positif ini sejalan dengan meningkatnya aktivitas ekonomi pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru, yang mendorong permintaan domestik dan menjaga stabilitas sektor usaha.

"Kapasitas produksi terpakai tetap terjaga di level 73,15%, didukung oleh sektor pengadaan listrik, pengadaan air, serta pengelolaan sampah dan limbah. Keuangan dunia usaha secara umum tetap sehat, dengan likuiditas dan rentabilitas terjaga, serta akses kredit yang lebih mudah,” tambahnya.

Menatap kuartal I 2026, Ramdan menegaskan optimisme dunia usaha tetap tinggi. Responden memprakirakan kegiatan usaha akan meningkat dengan SBT sebesar 12,93%, terutama pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan seiring masuknya musim panen.

Sektor industri pengolahan, transportasi dan pergudangan, perdagangan besar dan eceran, serta reparasi mobil dan motor diperkirakan juga meningkat, didorong oleh permintaan masyarakat pada periode Ramadan dan HBKN Idulfitri 1447 H.

Ia menekankan tren positif ini menunjukkan ketahanan dunia usaha dan kesiapan sektor ekonomi menghadapi momen konsumsi tinggi di awal 2026.

"Kombinasi antara permintaan domestik yang meningkat, musim panen, dan dukungan likuiditas menciptakan fondasi kuat bagi pertumbuhan ekonomi nasional,” sambung Ramdan.

Lebih lanjut, Ramdan menyebutkan data SKDU menjadi indikator penting bagi pembuat kebijakan dan pelaku usaha untuk mengambil langkah strategis.

"Informasi ini membantu memahami dinamika sektor usaha, merencanakan kapasitas produksi, serta mengantisipasi kebutuhan investasi dan kredit secara lebih efektif,” jelasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya menjaga stabilitas keuangan dunia usaha. Menurutnya,keuangan yang sehat, likuiditas terjaga, dan akses kredit yang lebih mudah memberikan fleksibilitas bagi pelaku usaha untuk beradaptasi, memperluas kapasitas produksi, dan meningkatkan kualitas layanan.

Ramdan menambahkan dukungan kebijakan moneter Bank Indonesia yang proaktif menjadi salah satu faktor pendukung ketahanan dunia usaha. Kebijakan ini memastikan aliran likuiditas tetap lancar, memperkuat keyakinan investor, dan mendukung pertumbuhan sektor usaha secara berkelanjutan.

Secara keseluruhan, Ramdan menegaskan optimisme dunia usaha tetap tinggi dan menunjukan prospek positif bagi ekonomi nasional di awal 2026.

"Dengan kapasitas produksi yang terjaga, kinerja keuangan yang sehat, dan permintaan domestik yang meningkat, dunia usaha siap menghadapi tantangan sekaligus memanfaatkan momentum pertumbuhan,” pungkas Ramdan.