Periskop.id - International Monetary Fund (IMF) menilai perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah berbagai tekanan global. Penilaian tersebut disampaikan dalam press release berjudul IMF Executive Board Concludes 2025 Article IV Consultation with Indonesia yang dirilis pada Rabu (14/1).

Dalam laporan tersebut, IMF memuji ekonomi Indonesia mampu bertahan menghadapi guncangan eksternal yang merugikan, berkat dukungan kebijakan fiskal dan moneter yang dinilai relatif prudent.

IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap stabil di angka 5,0% pada tahun 2025 dan sedikit meningkat menjadi 5,1% pada tahun 2026. Capaian ini dipandang positif mengingat lingkungan ekonomi eksternal yang penuh tantangan. Stabilitas ini merupakan buah dari dukungan kebijakan fiskal dan moneter yang terkalibrasi dengan baik.

Dalam laporan tersebut, inflasi umum di Indonesia dinyatakan terjaga dengan sangat baik. Proyeksi menunjukkan bahwa angka inflasi akan terus bergerak menuju titik tengah kisaran sasaran pemerintah. 

Selain itu, defisit transaksi berjalan diperkirakan tetap terkendali sepanjang periode 2025 hingga 2026, didukung oleh cadangan devisa yang memadai untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Meskipun fundamental terlihat kuat, IMF memberikan catatan merah pada beberapa risiko eksternal. Eskalasi ketegangan perdagangan dunia, ketidakpastian kebijakan global yang berkepanjangan, serta volatilitas pasar keuangan internasional tetap menjadi ancaman utama yang dapat mengganggu arus modal ke dalam negeri.

Dari sisi internal, IMF menyoroti bahwa perubahan kebijakan yang besar di dalam negeri dapat menimbulkan kerentanan baru jika tidak diimplementasikan dengan pengaman (safeguard) yang cukup kuat. 

Namun, terdapat potensi risiko ke arah positif jika pemerintah berani melakukan reformasi struktural yang lebih ambisius. Hal ini mencakup dorongan di bidang perdagangan yang lebih cepat serta pemanfaatan limpahan manfaat dari pertumbuhan negara mitra dagang yang lebih kuat.

Para Direktur Eksekutif IMF memuji rekam jejak kebijakan Indonesia yang dinilai prudent atau berhati-hati. Namun, mereka memberikan beberapa rekomendasi krusial bagi otoritas Indonesia, di antaranya:

1. Kredibilitas Fiskal dan Pengelolaan Anggaran
IMF menekankan pentingnya menjaga aturan fiskal yang kredibel. Mereka mendorong pemerintah untuk meningkatkan mobilisasi pendapatan negara guna menjaga penyangga fiskal. 

Selain itu, IMF secara khusus meminta otoritas untuk membatasi aktivitas di luar anggaran (off-budget) dan kegiatan kuasi-fiskal agar jejak fiskal negara menjadi lebih transparan dan efisien.

2. Pengawasan Terhadap Danantara
Lembaga baru, Danantara, turut mendapat perhatian khusus. IMF mengakui potensi Danantara dalam mendukung tujuan pembangunan nasional. Meski demikian, IMF menyerukan perlunya kerangka tata kelola dan akuntabilitas yang sangat kuat. 

Hal ini penting untuk mencegah penumpukan kewajiban kontinjensi yang bisa membebani keuangan negara di masa depan serta menekan risiko aktivitas kuasi-fiskal.

3. Kebijakan Moneter dan Sektor Keuangan
Kebijakan Bank Indonesia (BI) dalam menambatkan inflasi mendapat pujian. IMF menilai pelonggaran kebijakan moneter hingga 2025 sudah tepat untuk mendukung pertumbuhan. Namun, ke depannya, kebijakan harus tetap berbasis data (data-driven). 

IMF juga menyarankan agar peran BI di pasar surat utang pemerintah dikurangi secara bertahap guna meningkatkan likuiditas pasar dan partisipasi sektor swasta.

IMF mendukung agenda reformasi ambisius Indonesia untuk mencapai status negara berpendapatan tinggi pada tahun 2045. Untuk mencapai target tersebut secara inklusif, Indonesia memerlukan pertumbuhan dinamis yang dipimpin oleh sektor swasta.

Beberapa langkah kunci yang disarankan meliputi:

  • Deregulasi untuk mempermudah bisnis.
  • Peningkatan kualitas pendidikan dan infrastruktur digital.
  • Transisi dari langkah-langkah perdagangan non-tarif guna meningkatkan integrasi dengan ekonomi global.
  • Penerapan kebijakan industri yang menargetkan kegagalan pasar tanpa mendistorsi perdagangan dan investasi.

Terakhir, IMF menekankan bahwa kemajuan berkelanjutan pada agenda iklim menjadi bagian tak terpisahkan dari pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang berkelanjutan bagi Indonesia.