periskop.id -  Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M. Rizal Taufikurrahman, menegaskan bahwa program Makanan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar intervensi kesehatan, melainkan investasi strategis untuk pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

“MBG menyalurkan transfer non tunai berupa makanan bergizi untuk hampir 51 juta anak usia 0-18 tahun, sekaligus menyerap 741 ribu hingga 750 ribu tenaga kerja dalam distribusi, pendidikan, dan kesehatan,” ujar Rizal.

Dari total anggaran, 82% dialokasikan pada pendidikan dan 18% untuk kesehatan, menegaskan bahwa program ini lebih bersifat investasi jangka panjang dibanding belanja konsumtif.

Realisasi anggaran MBG pada tahun 2025 mencapai Rp53 triliun, sekitar 75% dari total APBN Rp71 triliun, namun tetap tidak menambah defisit pemerintah, karena program ini merupakan realokasi belanja, bukan stimulus fiskal.

"Artinya program ini dirancang untuk meningkatkan kualitas gizi dan pendidikan anak, menurunkan risiko stunting, meningkatkan kapasitas kognitif, dan memperkuat konsentrasi serta capaian belajar," sambungnya.

Menurut Rizal, dampak MBG lebih terasa dalam jangka panjang, terutama ketika generasi penerima memasuki usia produktif.

“Efeknya tidak signifikan dalam jangka pendek, tapi potensi peningkatan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rumah tangga sangat besar,” jelas Rizal.

Untuk melihat dampak ekonomi MBG secara komprehensif, INDEF menggunakan model OGIDN, versi lokal dari Overlapping Generations (OG).

Model ini memperhitungkan interaksi antar-generasi yakni generasi tua yang sudah pensiun, generasi muda yang bekerja dan menabung, serta bagaimana perilaku ekonomi mereka saling memengaruhi dari waktu ke waktu.

Hasil simulasi menunjukkan MBG memberikan dampak positif kecil tapi konsisten terhadap PDB dan konsumsi rumah tangga, terutama pada kohot penerima yang memasuki usia produktif. Pola serupa terlihat pada stok modal dan investasi, yang meningkat sejak awal pelaksanaan MBG, mendorong kapasitas ekonomi secara gradual.

Rizal menekankan, manfaat utama MBG tidak hanya terukur dari angka PDB. Program ini meningkatkan produktivitas tenaga kerja, memperkuat kesejahteraan antargenerasi, dan mendorong investasi manusia yang berkelanjutan. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada ketepatan sasaran, kualitas implementasi, dan integrasi lintas sektor.

“Dengan kombinasi investasi gizi, pendidikan, dan penyerapan tenaga kerja, MBG menjadi program strategis yang tidak hanya menyehatkan generasi muda, tetapi juga membangun fondasi ekonomi dan kualitas manusia Indonesia untuk 20 hingga 30 tahun ke depan,” tutup Rizal.