Periskop.id - Dunia sedang tidak baik baik saja, dan Indonesia pun tak luput dari radar risiko global. Berdasarkan laporan terbaru bertajuk The Global Risks Report 2026 yang dipublikasi oleh World Economic Forum, terdapat lima ancaman utama yang diidentifikasi melalui Executive Opinion Survey (EOS) 2025. 

Survei ini bukan sekadar angka, melainkan hasil pemikiran lebih dari para pemimpin bisnis di tanah air yang memetakan bahaya paling serius bagi stabilitas negara selama dua tahun ke depan.

Wawasan dari para petinggi bisnis ini menunjukkan adanya "titik panas" di mana kebijakan pemerintah dan realitas pasar saling berbenturan. Berikut adalah analisis mendalam mengenai lima risiko terbesar yang menghantui Indonesia saat ini.

1. Kurangnya Kesempatan Ekonomi atau Pengangguran

Secara kasat mata, data Badan Pusat Statistik (BPS) membawa kabar segar. Pada Februari 2025, angka pengangguran terbuka berada di level 4,7 %, turun tipis dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 4,82%. Namun, penurunan angka pengangguran tidak serta merta berarti lapangan kerja berkualitas semakin melimpah.

Masalah mendasarnya terletak pada kualitas pekerjaan. Data tahun 2024 menunjukkan bahwa hanya 42,05% masyarakat Indonesia yang bekerja di sektor formal. Artinya, lebih dari separuh tenaga kerja Indonesia terjebak di sektor informal. 

Pekerja informal ini mencakup mereka yang berusaha sendiri, pekerja bebas, hingga pekerja keluarga yang tidak memiliki kontrak kerja tetap. Tanpa perlindungan jaminan sosial dan pendapatan yang stabil layaknya PNS atau karyawan perusahaan besar, kelompok ini sangat rentan terhadap guncangan ekonomi.

2. Layanan Publik dan Perlindungan Sosial yang Tidak Memadai

Risiko kedua yang menjadi sorotan adalah ketidakcukupan layanan publik dan perlindungan sosial. Indonesia tertinggal cukup jauh dari negara tetangga dalam hal alokasi belanja pemerintah. Berdasarkan data IMF tahun 2024, belanja pemerintah Indonesia hanya berada di angka 16,9% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Sebagai perbandingan, Thailand mengalokasikan 22,71%, Malaysia 23,87%, Vietnam 19,99%, dan Filipina memimpin dengan 25,15%. Minimnya anggaran ini berdampak langsung pada keterbatasan pengembangan sektor krusial seperti kesehatan, pendidikan, dana pensiun, serta pembangunan infrastruktur yang menunjang mobilitas masyarakat.

3. Ancaman Kecerdasan Buatan (AI)

Salah satu disrupsi terbesar di tahun 2026 adalah kecerdasan buatan atau AI. Teknologi ini telah bertransformasi dari sekadar alat bantu menjadi faktor penentu pertumbuhan ekonomi. Bagi Indonesia, AI memicu perdebatan publik mengenai masa depan tenaga kerja, terutama bagi lulusan muda.

Ada kekhawatiran nyata bahwa posisi yang mudah didigitalisasi akan digantikan oleh robot atau sistem otomatis. Di satu sisi, AI menjanjikan efisiensi luar biasa di sektor manufaktur, logistik, dan keuangan. 

Namun di sisi lain, penggunaan AI untuk menekan biaya operasional berisiko tinggi menggeser karyawan dari posisi mereka saat ini atau memaksa mereka menerima pekerjaan dengan kompensasi yang jauh lebih rendah karena keterampilan lama mereka dianggap usang.

4. Bayang-bayang Kemerosotan Ekonomi dan Stagnasi

Meskipun OECD memproyeksikan PDB riil Indonesia akan tumbuh stabil di angka 5,0% pada 2025 dan 2026, tantangan besar tetap mengintai dari sektor ekspor. Gesekan perdagangan global yang meningkat mulai membebani aktivitas ekonomi domestik.

Selain itu, tantangan muncul dari fluktuasi harga komoditas. Jika harga komoditas dunia terus menurun, pendapatan ekspor Indonesia akan tergerus dan memperlebar defisit neraca transaksi berjalan. 

Kondisi keuangan memang membaik, namun pertumbuhan jangka panjang sangat bergantung pada bagaimana Indonesia menavigasi hambatan perdagangan internasional tersebut.

5. Inflasi

Menutup daftar lima besar, masalah inflasi tetap menjadi perhatian meski angkanya relatif terkendali. Laporan Reuters mencatat inflasi tahunan Indonesia sempat menyentuh angka sangat rendah yakni 1,03% di awal 2025 sebelum moderasi ke angka 1,87% pada tengah tahun. Angka ini sebenarnya masih dalam target sasaran Bank Indonesia yaitu 1,5% hingga 3,5%.

Namun, inflasi tetap dikategorikan sebagai risiko karena sifatnya yang sensitif. Kenaikan harga barang pokok atau energi sekecil apa pun dapat langsung menghantam daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah.

Tekanan permintaan yang terbatas memang menjaga inflasi tetap rendah saat ini, namun diproyeksikan akan merangkak mendekati level 3% pada 2026 seiring dengan normalisasi harga energi dan dampak depresiasi mata uang.