periskop.id – Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi membantah spekulasi yang menyebut Rapat Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) digelar secara khusus untuk menegur Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman.

“Oh enggak jadi itu adalah rapat rutin, rapat rutin kami ulang kalau saudara-saudara ingat Minggu lalu kan ada di Kemensetneg, nah cuma kita menyepakati rutin,” kata Prasetyo kepada awak media di Jakarta, Jumat (30/1).

Prasetyo menegaskan pertemuan tersebut merupakan agenda berkala yang telah terjadwal sebelumnya. Tidak ada agenda insidental yang ditujukan untuk memanggil atau menyidang pimpinan bursa efek dalam forum tersebut.

Lokasi rapat pun disepakati berpindah-pindah antar-kementerian. Pekan ini giliran Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menjadi tuan rumah, setelah sebelumnya digelar di Kementerian Sekretariat Negara.

“Nah, minggu ini lokasinya ada di Kementerian Ekonomi, minggu depan rencananya akan di Kementerian Keuangan,” terangnya merinci jadwal rotasi tempat rapat.

Forum TPIP kali ini dihadiri sejumlah pejabat tinggi negara. Terlihat Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Kepala Badan Pengelola BUMN Donny Oskaria, hingga Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo.

Meski isu teguran dibantah, sorotan terhadap kinerja BEI tetap tajam. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pengunduran diri Iman Rachman dari kursi Dirut BEI sebagai langkah positif dan bentuk tanggung jawab profesional.

Purbaya menyoroti adanya kesalahan fatal dalam penanganan isu pasar modal. Salah satunya adalah kegagalan menindaklanjuti masukan dan pertanyaan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI).

“Itu kesalahan dia yang fatal di situ sehingga kita mengalami koreksi yang dalam kemarin. Yang kalau nggak cepat dibetulin kan bisa mengganggu yang lain-lain,” ujar Purbaya.

Menurut Purbaya, kelalaian tersebut berdampak langsung pada koreksi pasar yang cukup dalam. Jika tidak segera diperbaiki, hal ini dikhawatirkan memicu persepsi negatif investor terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Di sisi lain, pemerintah terus memperkuat fundamental ekonomi. Sistem perizinan melalui Online Single Submission (OSS) terus dibenahi, sembari memastikan ketersediaan likuiditas di pasar tetap terjaga.

Purbaya memastikan koordinasi dengan otoritas moneter berjalan lancar. Hal ini penting untuk menopang target pertumbuhan ekonomi yang ambisius pada tahun ini.

“Kami juga sudah berkomunikasi dengan Central Bank sehingga likuiditas di pasar juga cukup untuk ekonomi tumbuh 6 persen tahun ini,” tutupnya.