periskop.id – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan angka restitusi pajak atau pengembalian kelebihan pembayaran pajak pada tahun 2026 akan berada di kisaran Rp270 triliun. Penurunan beban restitusi ini didasari oleh optimisme terhadap kinerja pertumbuhan penerimaan pajak yang terjaga positif sejak awal tahun.

"Dengan penghitungan yang sama, kalau enggak ada angka itu, saya pikir yang sama mungkin tahun ini mungkin institusi kita paling Rp270-an (triliun). Itu akan memberikan tambahan, mengurangi pengurang dari net pendapatan pajak kita," ucap Purbaya dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI, Jakarta, Rabu (4/2).

Purbaya membandingkan angka tersebut dengan realisasi tahun sebelumnya yang jauh lebih tinggi. Pada tahun 2025, pemerintah membayarkan restitusi pajak mencapai Rp361 triliun.

Kenaikan drastis pada 2025 tersebut, menurut Purbaya, terjadi karena adanya pergeseran pembayaran. Restitusi yang seharusnya dibayarkan pada periode 2023 hingga 2024 dialihkan dan menumpuk di tahun 2025, sehingga terjadi lonjakan hampir Rp100 triliun dibanding 2024.

Optimisme Bendahara Negara terhadap kondisi fiskal tahun ini bukan tanpa alasan. Ia mencatat kinerja penerimaan pajak di awal tahun 2026 menunjukkan tren yang sangat menggembirakan.

Realisasi penerimaan pajak tercatat telah menyentuh angka Rp172,7 triliun. Angka ini menunjukkan pertumbuhan signifikan sebesar 30,8% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Berbekal tren positif tersebut, Purbaya berani memprediksi total penerimaan pajak hingga akhir 2026 akan melampaui ekspektasi. Ia memperkirakan kas negara akan menerima setoran pajak hingga Rp2.492 triliun.

Proyeksi ini berada di atas target yang telah ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pemerintah sebelumnya mematok target penerimaan pajak sebesar Rp2.357 triliun untuk tahun anggaran 2026.

"Dari pajak sekitar income lah Rp2.492 triliun, ini sudah di atas angka Rp2.357 triliun di APBN 2026. Tapi ini kan pemisahan yang terlalu berlebihan tapi paling enggak kelihatan lah seperti itu, ada kemungkinannya karena tahun lalu negatif tumbuhnya," terangnya.

Purbaya menilai pemulihan ekonomi yang terus berlanjut menjadi katalis utama perbaikan ini. Pertumbuhan yang sempat negatif pada tahun sebelumnya kini berbalik arah menuju tren penguatan yang solid.