Periskop.id - Moody’s Ratings (Moody’s) mengumumkan perubahan outlook menjadi negatif untuk tiga perusahaan pembiayaan dan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) sebagai respons langsung atas langkah serupa pada peringkat utang pemerintah. Meski demikian, lembaga pemeringkat internasional tersebut tetap mempertahankan peringkat penerbit utang keempat entitas tersebut di level saat ini.
"Tindakan pemeringkatan hari ini terutama mencerminkan prospek negatif pada peringkat negara Baa2 Indonesia," tulis Moody's dalam keterangan resminya di Singapura, Jumat (6/2).
Moody's menyoroti peningkatan risiko terhadap kredibilitas kebijakan Indonesia. Hal ini tercermin dari berkurangnya prediktabilitas dan koherensi dalam proses pembuatan kebijakan, serta komunikasi kebijakan yang dinilai kurang efektif sepanjang tahun lalu.
Tren tersebut berpotensi menggerus kepercayaan pasar jika terus berlanjut. Padahal, kredibilitas kebijakan selama ini menjadi penopang pertumbuhan ekonomi yang solid serta stabilitas makroekonomi dan fiskal.
Tiga perusahaan pembiayaan yang terdampak revisi ini adalah PT Astra Sedaya Finance (ASF), PT Federal International Finance (FIF), dan PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI). LPEI atau Indonesia Eximbank juga masuk dalam daftar tersebut.
Afirmasi peringkat Baa2 untuk Pemerintah Indonesia tetap memperhitungkan ketahanan ekonomi yang berkelanjutan. Faktor struktural seperti basis sumber daya alam dan demografi yang kuat masih menjadi pendukung utama pertumbuhan PDB.
Namun, keterkaitan antara negara dan lembaga keuangan ini sangat erat. Moody's menilai penurunan kualitas kredit pemerintah akan berdampak langsung pada kemampuan bayar atau batasan peringkat perusahaan-perusahaan ini.
"Jika peringkat negara Indonesia diturunkan, hal itu akan menyebabkan penurunan peringkat bagi Indonesia Eximbank dan PT SMI, mengingat peringkat mereka mencakup peningkatan dukungan pemerintah," jelas laporan tersebut.
Kondisi serupa berlaku bagi sektor swasta yang terafiliasi dengan grup besar. Penurunan peringkat negara otomatis akan menyeret peringkat ASF dan FIF karena rating mereka dibatasi oleh peringkat negara (sovereign ceiling).
PT SMI memiliki skor penilaian mandiri yang dipengaruhi oleh eksposur pada aset infrastruktur bertenor panjang dan berisiko lebih tinggi. LPEI juga menghadapi tantangan lingkungan operasi yang fluktuatif akibat harga komoditas serta likuiditas neraca yang perlu diperhatikan.
Sementara itu, penilaian untuk ASF dan FIF mencerminkan siklus bisnis pembiayaan otomotif yang dinamis. Kemampuan akses pendanaan kedua entitas ini di saat kondisi sulit juga menjadi pertimbangan kualitatif Moody's.
Moody's menegaskan kecil kemungkinan adanya kenaikan peringkat dalam waktu dekat. Perubahan kembali ke outlook stabil hanya mungkin terjadi jika profil kredit negara membaik secara signifikan.
"Kami dapat menurunkan peringkat keempat perusahaan jika peringkat negara Indonesia diturunkan," tegas Moody's menutup pernyataannya.
Tinggalkan Komentar
Komentar