Periskop.id - Moody’s Ratings (Moody’s) menyatakan revisi outlook PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) menjadi negatif merupakan konsekuensi logis dari keterkaitan erat antara operator pelabuhan tersebut dengan kondisi ekonomi makro Indonesia. Meski demikian, lembaga pemeringkat ini tetap mempertahankan peringkat penerbit dan surat utang senior tanpa jaminan Pelindo di level Baa2.

"Tindakan pemeringkatan hari ini terutama mencerminkan prospek negatif pada peringkat negara Baa2 Indonesia," tulis Moody's dalam keterangan resminya di Singapura, Jumat (6/2).

Moody's menyoroti peningkatan risiko terhadap kredibilitas kebijakan pemerintah saat ini. Hal tersebut tercermin dari berkurangnya prediktabilitas dan koherensi dalam proses pembuatan kebijakan, serta komunikasi yang dinilai kurang efektif setahun terakhir.

Tren ini berpotensi menggerus kepercayaan pasar jika terus berlanjut. Padahal, stabilitas kebijakan selama ini menjadi faktor kunci yang mendukung pertumbuhan ekonomi yang solid.

Pelindo, sebagai entitas yang melayani arus perdagangan utama, memiliki eksposur tinggi terhadap kondisi ekonomi domestik. Potensi pelemahan profil kredit negara otomatis memberikan tekanan pada peringkat perseroan.

"Mengingat kepemilikan penuh pemerintah atas Pelindo dan keterkaitannya yang erat dengan kondisi ekonomi Indonesia yang lebih luas, potensi pelemahan profil kredit negara akan memberikan tekanan ke bawah pada peringkat Pelindo," jelas laporan tersebut.

Meski outlook turun, fundamental Pelindo dinilai tetap kokoh. Penilaian Kredit Dasar (BCA) dipertahankan di level baa2 berkat kinerja operasional yang konsisten kuat dan pertumbuhan arus peti kemas (throughput).

Moody's memproyeksikan rasio dana dari operasi (funds from operations/FFO) terhadap utang akan berada di kisaran 15% hingga 17% dalam dua tahun ke depan. Angka ini sedikit lebih rendah dari perkiraan sebelumnya akibat ketidakpastian dinamika perdagangan eksternal.

Perubahan struktur pemegang saham juga menjadi catatan. Sejak Maret 2025, PT Danantara Asset Management menjadi pemegang saham Seri B Pelindo. Namun, pemerintah tetap memegang kendali penuh melalui saham Seri A Dwiwarna.

Rencana belanja modal (capex) yang cukup besar untuk ekspansi pelabuhan turut menjadi pertimbangan. Pendanaan ekspansi ini diperkirakan akan sangat bergantung pada kas internal perusahaan.

Ke depan, peluang kenaikan peringkat Pelindo dinilai sangat terbatas. Pengembalian outlook ke posisi stabil hanya bisa terjadi jika outlook negara membaik dan kualitas kredit mandiri perusahaan tetap terjaga.

Sebaliknya, penurunan peringkat menjadi risiko nyata jika peringkat negara turun. Pelemahan kinerja keuangan secara signifikan juga bisa menjadi pemicu koreksi peringkat.

"Kami dapat menurunkan peringkat dan BCA Pelindo jika peringkat negara diturunkan," tutup Moody's.