Periskop.id - Moody’s Ratings (Moody’s) menjelaskan langkah afirmasi peringkat PT Hutama Karya (Persero) dengan penyesuaian outlook menjadi "stable(m)" mencerminkan adanya perbedaan prospek antara peringkat penerbit dan surat utang yang dijamin pemerintah. Status ini menunjukkan situasi unik di mana satu entitas memiliki outlook yang berbeda untuk instrumen utang yang berbeda.

"Tindakan pemeringkatan hari ini terutama mencerminkan prospek negatif pada peringkat negara Baa2 Indonesia," tulis Moody's dalam keterangan resminya di Singapura, Jumat (6/2).

Lembaga pemeringkat tersebut menyoroti risiko kredibilitas kebijakan Indonesia yang meningkat. Hal ini terlihat dari berkurangnya prediktabilitas proses pembuatan kebijakan serta komunikasi kebijakan yang dinilai kurang efektif setahun terakhir.

Moody's mempertahankan outlook stabil untuk peringkat penerbit Baa3 Hutama Karya. Keputusan ini didasari oleh ekspektasi bahwa peran strategis perusahaan dalam pembangunan infrastruktur nasional akan tetap terjaga dalam 12 hingga 18 bulan ke depan.

Sebaliknya, outlook untuk obligasi senior tanpa jaminan dan program MTN yang dijamin pemerintah direvisi menjadi negatif dari sebelumnya stabil. Revisi ini merupakan cerminan langsung (mirroring) dari perubahan outlook pemerintah selaku penjamin.

"Prospek negatif pada obligasi senior tanpa jaminan dan program MTN HK, mencerminkan prospek negatif pemerintah," jelas laporan tersebut.

Sebagai pemegang konsesi tunggal Jalan Tol Trans-Sumatera (JTTS), Hutama Karya memiliki ketergantungan sangat tinggi pada negara. Moody's menilai dukungan luar biasa dari pemerintah akan tetap mengalir saat perusahaan membutuhkan bantuan.

Secara finansial, Moody's memproyeksikan rasio dana dari operasi (funds from operations/FFO) terhadap utang akan berada di kisaran 5 hingga 7 persen dalam dua tahun mendatang. Proyeksi ini didukung oleh peningkatan arus kas operasional jalan tol serta beban bunga yang lebih rendah.

Namun, ketidakpastian tetap membayangi. Rencana konsolidasi BUMN karya dan jalan tol yang belum mendetail membuat Moody's belum memperhitungkan dampak kredit langsung dari aksi korporasi tersebut dalam penilaian saat ini.

Ke depan, peringkat penerbit bisa naik jika dukungan pemerintah menguat secara signifikan. Sebaliknya, penurunan porsi kepemilikan negara atau keraguan pasar atas efektivitas jaminan pemerintah dapat memicu penurunan peringkat.

Sementara untuk surat utang yang dijamin, nasibnya terikat mutlak dengan kondisi makroekonomi negara. Penurunan peringkat negara akan otomatis menyeret turun peringkat obligasi tersebut.

"Peringkat obligasi yang dijamin dan program MTN akan diturunkan jika peringkat negara diturunkan," tutup Moody's.