Periskop.id - Moody’s Ratings (Moody’s) mengungkapkan perubahan outlook lima bank besar di Indonesia menjadi negatif sebagai dampak langsung dari revisi serupa pada profil kredit pemerintah. Langkah ini diambil menyusul afirmasi peringkat penerbit Pemerintah Indonesia di level Baa2 yang kini juga menyandang status outlook negatif.

"Tindakan pemeringkatan hari ini terutama mencerminkan prospek negatif pada peringkat negara Baa2 Indonesia," sebut Moody's dalam keterangan tertulisnya di Singapura, Jumat (6/2).

Lembaga pemeringkat global tersebut menyoroti peningkatan risiko terhadap kredibilitas kebijakan Indonesia. Indikator utamanya terlihat dari berkurangnya prediktabilitas dan koherensi dalam proses pembuatan kebijakan, serta komunikasi yang dinilai kurang efektif setahun terakhir.

Tren ini dikhawatirkan dapat menggerus kredibilitas kebijakan yang selama ini menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi solid. Stabilitas makroekonomi, fiskal, dan keuangan nasional pun berpotensi terganggu jika situasi ini berlanjut.

Lima bank yang terkena dampak revisi ini meliputi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI). PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) juga masuk dalam daftar tersebut.

Meski outlook berubah, Moody's tetap mempertahankan peringkat penerbit, deposito, dan surat utang senior tanpa jaminan kelima bank tersebut. Afirmasi ini didasari oleh ketahanan ekonomi Indonesia yang masih didukung basis sumber daya alam dan demografi kuat.

Namun, nasib peringkat kelima bank ini sangat terikat dengan kondisi negara. Moody's memperingatkan penurunan peringkat sovereign akan langsung menyeret turun peringkat kelima bank tersebut.

Bagi Mandiri, BRI, dan BCA, penurunan peringkat negara akan berdampak pada Penilaian Kredit Dasar (BCA) mereka yang memang sudah setara dengan rating negara (sovereign ceiling). Sementara untuk BNI dan BTN, penurunan akan dipicu oleh berkurangnya nilai tambah dukungan publik (public support uplift).

Secara spesifik, BCA dinilai memiliki kualitas aset kuat dan profitabilitas sangat tinggi dibanding pesaing. Namun, profil keuangannya tetap tidak bisa melampaui batasan peringkat negara.

Di sisi lain, BTN menghadapi tantangan berupa provisi yang rendah relatif terhadap risiko aset serta stok kredit restrukturisasi yang tinggi. Meski demikian, statusnya sebagai bank perumahan pelat merah memberikan probabilitas dukungan pemerintah yang sangat tinggi.

Momentum kenaikan peringkat bagi kelima bank ini dinilai sangat kecil dalam waktu dekat. Pengembalian outlook ke posisi stabil hanya mungkin terjadi jika outlook negara membaik.

"Kami dapat menurunkan peringkat jangka panjang simpanan dan/atau emiten dan/atau surat utang senior tanpa jaminan jika peringkat negara Indonesia diturunkan," tutup Moody's.