Periskop.id - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso optimistis ekspor Indonesia ke Amerika Serikat (AS) akan meningkat, setelah penandatanganan Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang dilakukan Kamis (19/2) waktu setempat.
Budi mengatakan, tarif impor Indonesia ditetapkan sebesar 19% untuk masuk ke Amerika Serikat (AS). Namun, terdapat kurang lebih 1.819 pos tarif produk asal Indonesia yang mendapatkan fasilitas bea masuk 0%.
"Harapan kita naik ya, target kita naik, harus naik. Karena kan begini, sekarang kan sudah beberapa komoditas 0%, komoditas unggulan kita itu yang bisa masuk ke sana. Nah, otomatis seharusnya naik, dong," kata Budi di Jakarta, Jumat (20/2).
Mendag berharap proses ratifikasi dari Agreement on Reciprocal Trade (ART) dapat dirampungkan tahun ini, sehingga implementasinya dapat segera berjalan.
"Saya kira ratifikasi tahun ini mungkin selesai lah, ini kan masih awal tahun. Jadi bisa tahun ini bisa implementasikan, 90 hari kan setelah ratifikasi. Ya mudah-mudahan, ya harus kita kejar secepatnya lah," ujarnya.
Adapun komoditas yang mendapatkan tarif 0% ke pasar AS, antara lain adalah minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik termasuk semikonduktor, komponen pesawat terbang. Selain itu, Indonesia dan AS juga menyepakati skema tarif 0% untuk produk tekstil dan garmen (apparel) melalui mekanisme Tariff Rate Quota (TRQ).
Skema tersebut memungkinkan volume tertentu ekspor tekstil dan garmen Indonesia masuk ke pasar AS tanpa Bea Masuk. Namun, besaran kuota akan ditentukan berdasarkan jumlah bahan baku tekstil yang diimpor Indonesia dari AS, seperti kapas (cotton) dan serat buatan (man-made fiber).
Pada Januari-Desember 2025, Amerika Serikat menyumbang surplus sebesar US$21,12 miliar. Komoditas penyumbang surplus terbesarnya adalah mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, pakaian dan aksesorisnya (rajutan), serta alas kaki.
Nilai ekspor Indonesia ke Amerika Serikat tercatat sebesar US$30,96 miliar, dengan pendorong utamanya mesin/peralatan mekanis dan sebagainya. Termasuk kendaraan dan bagiannya, serta besi dan baja.
Sementara nilai impor Indonesia dari Amerika Serikat tercatat sebesar US$9,84 miliar. Komoditas utamanya adalah mesin/peralatan mekanis dan bagiannya, biji dan buah mengandung minyak, dan mesin/perlengkapan elektrik dan bagiannya.
Capaian Diplomasi
Budi Santoso melanjutkan, diplomasi Presiden Prabowo Subianto di kancah internasional telah mempercepat penyelesaian sejumlah kesepakatan dagang strategis. Menurutnya, diplomasi tersebut menjadi faktor kunci percepatan berbagai perjanjian dagang, termasuk dengan Amerika Serikat, yang diyakini akan mendongkrak ekspor nasional.
"Pak Presiden Prabowo ini kan memang diplomasinya bagus ya, diplomasi di kancah internasional itu bagus. Jadi banyak perjanjian dagang ini cepat selesai, ya karena Beliau," ujar Budi.
Ia menyebut, diplomasi Presiden Prabowo telah membawa Indonesia mendapat tarif timbal balik sebesar 19% dengan Amerika Serikat, di mana kesepakatan ini baru saja ditandatangani di Washington DC, Amerika Serikat, Kamis (19/2) waktu setempat.
Selain itu, Indonesia juga telah merampungkan perundingan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA), Indonesia-Kanada CEPA, serta Indonesia-Eurasia Free Trade Agreement (FTA).
"I-EU CEPA cepat selesai akhirnya, setelah diplomasi Beliau bagus. I-Eurasia FTA, kemudian Indonesia-Kanada, dan yang terakhir ini, termasuk yang Amerika. Ini kan cepat dan hasilnya bagus sekali," kata Budi.
Menurut Budi, penyelesaian perjanjian dagang yang lebih cepat membuka dua peluang besar bagi Indonesia, yakni menarik investasi asing langsung dan meningkatkan ekspor melalui perluasan akses pasar. Ia menambahkan, dengan semakin banyaknya perjanjian dagang yang dimiliki Indonesia, maka pasar ekspor menjadi luas dan kompetitif.
"Kalau misalnya mereka investasi dan mempunyai atau memproduksi barang-barang yang kompetitif ya, barang-barang manufaktur terutama, ekspor kita akan cepat meningkat," imbuhnya.
Instrumen Negosiasi
Sementara itu, Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai, keputusan penetapan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) dengan Indonesia bisa dimanfaatkan sebagai instrumen negosiasi untuk memperluas akses pasar.
“Kebijakan ini dimanfaatkan sebagai, misalnya, media negosiasi untuk memperluas akses pasar dan juga memperbaiki kepastian dagang,” kata Josua dalam Economic Outlook 2026 yang diikuti secara daring di Jakarta, Jumat.
Menurut Josua, kebijakan tersebut dinilai dapat menjadi momentum untuk mengurangi ketergantungan pada satu pasar. Ia berpendapat, percepatan diversifikasi bisa dilakukan dengan mengoptimalkan kerja sama perdagangan yang sudah ada, maupun menjajaki perjanjian baru dengan mitra potensial.
Sebagai contoh, Indonesia sebelumnya telah menyepakati Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU‑CEPA). Menurut dia, tarif resiprokal AS bisa menjadi modal untuk negosiasi perjanjian dagang serupa.
Namun, manfaat itu dinilai relatif terbatas mengingat penerapannya terbatas pada komoditas dan subsektor tertentu. Indonesia pun tetap perlu memperkuat daya saing, standar produk, serta meningkatkan nilai tambah melalui hilirisasi dan industrialisasi.
“Kalau tidak, itu artinya pergeseran pasar ini hanya bersifat substitusi, tanpa adanya peningkatan produktivitas dan kualitas ekspor kita,” ucapnya.
Secara umum, ia mengatakan tarif resiprokal berpotensi menahan laju pertumbuhan ekonomi pada 2026, terutama di tengah perlambatan global dan melemahnya permintaan eksternal.
Josua menjelaskan implementasi kebijakan tarif yang dominan berpotensi meningkatkan hambatan perdagangan. Dampaknya kemungkinan akan terasa pada permintaan eksternal, rantai pasok, keputusan investasi, dan harga perdagangan.
Terkait potensi peningkatan penanaman modal asing langsung (FDI) dari Amerika Serikat, khususnya ke sektor manufaktur dan logistik, Josua menilai sifatnya tetap bersyarat.
Investor baru akan merespons positif apabila disertai perbaikan menyeluruh pada kemudahan perizinan, kepastian regulasi, insentif yang tepat sasaran, ketersediaan energi, kawasan industri yang kompetitif, serta konektivitas logistik yang efisien.
“Tanpa syarat itu, sekalipun memang ada negosiasi ini, saya pikir investasi dari AS ke domestik kita pun mungkin akan bersyarat juga,” tegasnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar