periskop.id - Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, mengungkapkan impor non-migas Indonesia dari Australia pada Januari 2026 tercatat sebesar US$1,07 miliar.

‎Nilai impor tersebut terutama didominasi oleh komoditas logam mulia dan perhiasan. Komoditas ini tercatat memiliki porsi atau share sebesar 47,54% dari total impor non-migas Indonesia yang berasal dari Australia.

‎"Ternyata perhiasan atau logam mulia banyak diimpor dari Australia dengan sharenya yaitu 47,54%," ucap Ateng dalam konferensi pers BPS, Senin (2/3). 

‎Secara tahunan (year on year/yoy), impor logam mulia dan perhiasan dari Australia tersebut melonjak signifikan, yakni tumbuh sebesar 634,30%.

‎"Impor logam mulia dan perhiasan tersebut tumbuh 634,30 persen secara year on year," tuturnya.

‎Sebelumnya, BPS mencatat total nilai impor pada Januari tahun 2026,  mencapai US$21,20 miliar atau meningkat 18,21% secara tahunan (year on year/yoy) jika dibandingkan dengan Januari tahun 2025.

‎Dari total tersebut, impor migas tercatat sebesar US$3,17 miliar atau naik 27,52% secara tahunan. Sementara itu, impor non-migas mencapai US$18,04 miliar, tumbuh 16,71% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. ‎Ateng mengatakan peningkatan impor secara tahunan terutama didorong oleh kenaikan impor non-migas. 

‎"Peningkatan nilai impor secara tahunan ini terutama didorong oleh peningkatan impor non-migas dengan andil sebesar 14,40%," tutupnya.