periskop.id - Beirut kembali dilanda kepanikan. Tentara Israel mengeluarkan perintah pengungsian paksa terhadap puluhan ribu warga di Lebanon selatan, termasuk kawasan padat penduduk Dahiyeh di pinggiran ibu kota.
Kawasan ini dikenal sebagai basis utama Hizbullah. Ratusan ribu orang bergegas meninggalkan rumah mereka, membawa barang seadanya, mencari tempat yang dianggap lebih aman.
Melansir Al Jazeera, Senin (2/3), Dahiyeh bukan wilayah asing bagi serangan Israel. Pada perang 2024, daerah ini berkali-kali dibombardir. Meski sempat ada gencatan senjata sepihak pada November tahun itu, Israel tetap melanjutkan operasi militer dengan alasan Hizbullah mempersenjatai diri kembali.
Selama lebih dari 15 bulan, Hizbullah menahan diri dengan gencatan senjata de facto, meski serangan Israel terus menghantam wilayah Lebanon. Namun kali ini, kelompok tersebut memutuskan membalas. Serangan roket diluncurkan ke wilayah utara Israel, meski tidak menimbulkan korban.
Langkah ini pun dianggap bukan sekadar balasan, melainkan sinyal bahwa Hizbullah ingin menegaskan keberpihakannya pada Iran, yang sedang berkonflik langsung dengan AS dan Israel. Iran selama ini menjadi penyandang dana utama, pemasok senjata, sekaligus pelindung politik Hizbullah. Tanpa dukungan Teheran, sulit bagi kelompok ini membiayai pasukan maupun program sosialnya.
“Perjuangan mempertahankan sistem penguasa Iran adalah masalah eksistensial bagi Hizbullah,” tulis analis yang berbasis di Washington, Ali Harb.
Meski Hizbullah berusaha menunjukkan keteguhan, kondisi internal Lebanon semakin rapuh. Ribuan pejuang Hizbullah tewas sejak perang Gaza 2023, sementara sayap militernya diyakini melemah. Publik Lebanon sendiri sudah jenuh dengan perang berkepanjangan dan krisis ekonomi.
Perdana Menteri Nawaf Salam mengecam serangan roket Hizbullah ke Israel.
“Itu tindakan tidak bertanggung jawab yang membahayakan keamanan Lebanon dan memberi Israel alasan untuk melanjutkan agresinya,” ujarnya.
Kantor Berita Nasional Lebanon melaporkan adanya “eksodus besar” dari wilayah Tirus menuju Beirut dan Lebanon utara. Tim pertahanan sipil bahkan harus mengatur arus lalu lintas untuk mengendalikan gelombang pengungsi.
Konflik ini terjadi di tengah eskalasi besar setelah pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan udara AS-Israel Sabtu (28/2). Iran merespons dengan meluncurkan rudal ke berbagai aset AS di Teluk, termasuk Bahrain dan Kuwait. Situasi ini memicu lonjakan harga minyak global hingga 13%, sementara pasar saham Asia dan AS mengalami penurunan tajam.
Lebanon kini menjadi front baru, risiko perang regional semakin jelas. Hizbullah mungkin berharap dapat mengubah keseimbangan kekuatan, tetapi banyak ahli tetap mempertanyakan apakah kelompok yang melemah ini mampu benar-benar membantu Iran secara signifikan.
Tinggalkan Komentar
Komentar