periskop.id - Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan realisasi belanja subsidi dan kompensasi hingga 28 Februari 2026 mencapai Rp51,5 triliun atau sekitar 11,5% dari APBN. Jumlah tersebut terdiri atas pembayaran subsidi Rp7,4 triliun dan kompensasi Rp44,1 triliun. 

‎"Itu 44,1 triliun sesuai dengan janji kita untuk melunasi secara bertahap kompensasi, utang kompensasi tahun 2025," ucap Suahasil dalam konferensi pers APBN KiTa, Jakarta, Rabu (11/3). 

‎Ia menjelaskan bahwa realisasi subsidi dan kompensasi tersebut dipengaruhi oleh fluktuasi Indonesian Crude Price (ICP), depresiasi nilai tukar rupiah, serta peningkatan volume konsumsi BBM, LPG, dan listrik. 

‎"Tentu kita harus lakukan terus namun secara umum pemerintah akan terus menjaga ketersediaan barang dengan harga yang bersubsidi," jelasnya. 

‎Pemerintah juga mencermati bahwa dinamika geopolitik global berpotensi mendorong kenaikan harga minyak yang pada akhirnya dapat meningkatkan kebutuhan subsidi energi. 

‎Kata Suahasil, Indonesia sebelumnya juga telah memiliki pengalaman menghadapi lonjakan harga energi global, seperti saat konflik Rusia-Ukraina pada tahun 2022.

‎Dalam menjaga ketersediaan barang bersubsidi, pemerintah mencatat peningkatan volume penyaluran sejumlah komoditas. Penyaluran BBM bersubsidi pada 2026 mencapai 1.647,9 ribu kiloliter atau naik 11,2% dibandingkan tahun sebelumnya. 

‎Penyaluran LPG 3 kilogram tercatat 740,9 juta kilogram atau meningkat 7,5%. Sementara itu, listrik bersubsidi mencapai 42,7 juta pelanggan atau naik 2,2%.

‎Selain itu, penyaluran pupuk bersubsidi mencapai 1,4 juta ton atau meningkat 16,6 persen. Jumlah debitur Kredit Usaha Rakyat (KUR) juga meningkat menjadi 0,8 juta debitur atau naik 42,5% dibandingkan tahun sebelumnya.