periskop.id - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) per 28 Februari kembali menarik utang sebesar Rp185,3 triliun atau 22,3% terhadap pagu Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) yang mencapai Rp832,2 triliun. 

‎"Total pembiayaan utang dengan realisasi sampai dengan 28 Februari itu sebesar Rp185,3 triliun," kata Wakil Menteri Keuangan Juda Agung dalam konferensi pers APBN KiTa, Jakarta, ditulis Kamis (12/3). 

‎Adapun pembiayaan non-utang tercatat minus Rp21,1 triliun atau sekitar 14,7% dari target Rp143,1 triliun.

‎Secara keseluruhan realisasi pembiayaan anggaran per 28 Februari 2026 tercatat sebesar Rp164,2 triliun atau 23,8% dari target APBN 2026 sebesar Rp689,1 triliun. ‎Sebagai perbandingan, pada periode yang sama tahun 2025, realisasi pembiayaan mencapai Rp154,81 triliun atau 29,6% dari outlook APBN 2025 sebesar Rp522,83 triliun.

‎"Secara keseluruhan realisasi pembiayaan tahun 2026 hingga akhir Januari mencapai Rp105,06 triliun atau 15,2% dari target, lebih rendah dibandingkan realisasi 2025 yaitu 29,6%," terang Juda.

‎Juda menjelaskan pemerintah menyatakan pembiayaan APBN 2026 dikelola secara prudent dan terukur, dengan mempertimbangkan kondisi likuiditas pemerintah serta dinamika pasar keuangan. ‎Strategi pembiayaan juga dilakukan melalui langkah antisipatif serta pengelolaan kas dan utang secara aktif guna memastikan ketersediaan kas yang memadai.

‎Selain itu, pemerintah menegaskan pemenuhan target pembiayaan tetap mempertimbangkan biaya pendanaan (cost of fund) yang efisien serta risiko yang terkelola dengan baik agar APBN tetap terjaga kredibilitas dan keberlanjutannya