periskop.id - Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Febrio Kacaribu, optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap kuat meskipun terdapat potensi gangguan rantai pasok komoditas global akibat penutupan Selat Hormuz di tengah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

‎Febrio mengatakan pemerintah terus memantau perkembangan situasi global tersebut. Namun, ia menilai kinerja ekonomi domestik, khususnya pada kuartal I 2026, masih memiliki momentum yang kuat, terutama didukung oleh percepatan belanja negara.

‎"Tadi per akhir Februari saja itu pertumbuhannya di atas 40%. ‎Kenapa? Karena memang tahun lalu juga bisa dianggap low base," ucap Febrio dalam konferensi pers APBN KiTa, Jakarta, dikutip Kamis (12/3).

‎Pertumbuhan tinggi ini antara lain dipengaruhi oleh basis pembanding yang relatif rendah pada tahun sebelumnya serta strategi baru pemerintah dalam mengelola pola belanja negara.

‎"Antara kuartal 1, kuartal 2, kuartal 3, dan kuartal 4. Dengan demikian dibandingkan biasanya memang terjadi akselerasi belanja," tambahnya. 

‎Ia menjelaskan, perubahan strategi pengelolaan belanja tersebut juga tercermin pada posisi defisit anggaran pada Februari 2026 yang tercatat sekitar 0,5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Menurutnya, kondisi ini merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun.

‎"Makanya defisitnya di bulan Februari itu 0,5% dari PDB, itu karena memang strategi kita mengelola PBN yang memang sudah berubah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya," tambahnya.

‎Di sisi lain, kinerja penerimaan negara juga menunjukkan tren positif. Penerimaan pajak hingga Februari tercatat tumbuh lebih dari 30%, sehingga memberikan ruang fiskal yang cukup bagi pemerintah untuk mempercepat belanja negara.

Dengan kombinasi percepatan belanja dan kinerja penerimaan yang kuat, pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 akan tetap solid.

Febrio menyebut pertumbuhan ekonomi berpotensi berada di kisaran 5,5% atau lebih pada kuartal I 2026, melanjutkan momentum kuat pada kuartal IV 2025 yang tercatat sebesar 5,39%.

‎"Momentum pertumbuhan ekonomi itu juga kita harapkan terus berlanjut nanti di kuartal kedua juga kita akan melakukan strategi yang sama, dimana belanja kuartal kedua itu juga biasanya tidak setinggi kuartal ketiga dan kuartal keempat," tutup Febrio.