periskop.id - Bank Indonesia (BI) melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada Januari-Februari 2026 mencatat surplus sebesar US$2,2 miliar. Jumlah tersebut terutama bersumber dari surplus neraca perdagangan nonmigas serta defisit neraca perdagangan migas yang menurun.

‎"Kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) perlu terus diperkuat sehingga dapat memitigasi dampak berlanjutnya perang di Timur Tengah," kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, saat konferensi pers, Rabu (22/4). 

‎Perry menjelaskan dari transaksi modal dan finansial, investasi portofolio asing pada Januari-Maret 2026 mencatat arus keluar bersih sebesar US$1,7 miliar terutama dipengaruhi oleh pembukaan pasar keuangan global yang dipicu perang di Timur Tengah.

‎Pada awal triwulan II hingga 20 April 2026), aliran kembali mencatat net inflows sebesar US$1,9 miliar, terutama ditopang oleh aliran masuk modal asing ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan SBN yang didorong oleh peningkatan imbal hasil di kedua instrumen.

‎Adapun posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2026 tercatat sebesar US$148,2 miliar, setara dengan pembiayaan 6,0 bulan impor atau 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. 

‎Ke depan, sinergi kebijakan untuk memperkuat kinerja neraca pembayaran perlu terus ditingkatkan sehingga dapat menjaga ketahanan perekonomian eksternal di tengah-tengah dampak perang global Timur Tengah.

‎Lebih jauh, pihaknya memprakirakan defisit transaksi berjalan 2026 dalam kisaran defisit 1,3% sampai dengan 0,5% dari PDB.