Periskop.id - Pemerintah Kabupaten Bantul kembali mendorong budidaya sorgum setelah pengembangannya sempat terhenti akibat persoalan pemasaran. Tanaman sumber karbohidrat itu kini diarahkan untuk memanfaatkan lahan marginal tanpa mengurangi areal persawahan produktif.

Pengembangan dimulai melalui gerakan penanaman bersama Kelompok Tani Tamanmojo di Dusun Mojolegi, Kalurahan Karangtengah, Kapanewon Imogiri, pada Minggu (2/8). Kegiatan tersebut juga melibatkan Pondok Pesantren Al Mahali Watu Ageng.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Bantul Joko Waluyo mengatakan sorgum bukan tanaman baru bagi petani setempat. Komoditas tersebut pernah dibudidayakan dalam skala cukup luas pada 2013 hingga 2015, tetapi tidak berlanjut karena harga jualnya belum menarik.

"Sekitar tahun 2013 hingga 2015 itu pernah dibudidayakan, tapi terkait penjualan ada kendala karena harganya terlalu rendah," kata Joko, Minggu.

Pernah Ditanam hingga 100 Hektare

Pada periode pengembangan sebelumnya, luas tanaman sorgum di Bantul mencapai sekitar 100 hektare. Salah satu sentra terbesarnya berada di Kalurahan Poncosari, Kapanewon Srandakan.

Produktivitasnya saat itu berada pada kisaran enam hingga tujuh ton per hektare. Angka tersebut menunjukkan kondisi tanah dan iklim Bantul dinilai cukup mendukung pengembangan komoditas tersebut.

"Hasilnya dulu produksi per hektar itu sekitar enam sampai tujuh ton," ujarnya.

Catatan Pemkab Bantul menunjukkan program diversifikasi sorgum telah dirintis sejak lebih dari satu dekade lalu. Saat itu, penanaman disiapkan di Imogiri, Dlingo, dan Pajangan sebagai bagian dari penganekaragaman konsumsi pangan berbasis komoditas lokal.

Namun, pengalaman sebelumnya juga memperlihatkan bahwa keberhasilan budidaya tidak cukup diukur dari produksi. Kepastian pasar, harga yang menguntungkan petani, fasilitas pengolahan, dan permintaan konsumen perlu dipersiapkan agar program tidak kembali berhenti setelah panen.

Manfaatkan Lahan yang Kurang Produktif

Pemkab Bantul akan memusatkan tahap awal pengembangan terbaru di Karangtengah. Lahan yang digunakan merupakan tanah Sultan Ground yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

"Harapan kami nanti bisa dikembangkan di lahan-lahan marginal karena kita terus terang banyak lahan marginal yang ada di Bantul," kata Joko.

Kementerian Pertanian menyebut sorgum memiliki toleransi yang baik terhadap kekeringan dan dapat dibudidayakan pada lahan dengan tingkat kesuburan serta daya ikat air yang rendah. Kebutuhan input pupuk dan pestisidanya juga relatif lebih sedikit dibandingkan sejumlah tanaman pangan lain.

Karakteristik tersebut membuat sorgum berpotensi ditanam di lahan yang kurang sesuai untuk padi. Kementerian Pertanian juga menegaskan pengembangan sorgum pada lahan marginal dapat dilakukan tanpa mengganggu areal pertanian padi yang telah tersedia.

"Karena bagaimanapun juga sorgum itu bisa memenuhi unsur karbohidrat pengganti nasi dan batang maupun daunnya dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak," ujar Joko.

Selain bijinya diolah menjadi beras atau tepung, batang dan daun sorgum dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Kementerian Pertanian juga melihat komoditas tersebut memiliki peluang dikembangkan menjadi bahan baku gula cair, bioenergi, dan produk industri lainnya.

Tidak Mengurangi Lahan Padi

Sekretaris Kelompok Tani Tamanmojo Jazimah mengatakan penanaman perdana telah dilakukan pada Juli 2026 dan dilanjutkan dengan pembukaan hamparan baru.

"Penanaman awal dilakukan pada bulan Juli 2026, nah ini dikembangkan lagi di lahan yang baru," katanya.

Kelompok tani tersebut mengelola sekitar 17 hektare lahan tanaman pangan yang sebagian besar digunakan untuk menanam padi. Namun, pengembangan sorgum dipastikan tidak mengambil lahan yang telah dialokasikan untuk komoditas utama tersebut.

"Kami memaksimalkan lahan marginal yang merupakan hamparan dengan status SG yang bisa dimanfaatkan," ujarnya.

Strategi itu menempatkan sorgum sebagai pelengkap, bukan pengganti penuh produksi padi. Badan Pusat Statistik mencatat luas panen padi di Daerah Istimewa Yogyakarta pada 2025 mencapai 107,22 ribu hektare dengan produksi 547,51 ribu ton gabah kering giling. Setelah dikonversikan, produksinya setara sekitar 311 ribu ton beras.

Diversifikasi diperlukan untuk memperluas pilihan pangan sekaligus mengurangi ketergantungan konsumsi terhadap satu komoditas. BRIN menilai sumber karbohidrat lokal seperti sorgum, jagung, ubi kayu, dan talas dapat memperkuat ketahanan pangan ketika dikembangkan sesuai kondisi wilayah masing-masing.

Pasar dan Produk Olahan Jadi Tantangan

Pengalaman Bantul pada 2013 hingga 2015 membuat aspek hilirisasi perlu menjadi perhatian utama. Tanpa pembeli tetap dan produk olahan bernilai tambah, harga sorgum di tingkat petani berisiko kembali terlalu rendah.

Pemerintah daerah karena itu perlu menghubungkan kelompok tani dengan penggilingan, pelaku UMKM, industri pangan, peternak, koperasi, hingga jaringan pemasaran. Sorgum dapat diolah menjadi nasi, tepung, bubur, mi, kue, makanan ringan, serta bahan campuran produk pangan lainnya.

Kementerian Pertanian pada 2026 juga mulai memperkuat ketersediaan benih sorgum. Salah satunya dilakukan melalui produksi calon benih varietas Biohuma di Cirebon untuk mendukung pemanfaatan sorgum sebagai sumber pangan, pakan, dan energi.

Bagi petani Bantul, pasar yang jelas akan menentukan apakah penanaman dapat berkembang dari proyek percontohan menjadi usaha berkelanjutan. Pendampingan juga dibutuhkan dalam pengolahan pascapanen, pengemasan, promosi, dan pengenalan cara mengonsumsi sorgum kepada masyarakat.

Jazimah berharap pengembangan komoditas tersebut dapat memberikan sumber pendapatan baru bagi petani dan warga pondok pesantren. Sorgum juga diharapkan mulai diterima sebagai bagian dari pola konsumsi sehari-hari.

"Kalau ada sorgum bisa diselang-seling dengan beras," katanya.

Melalui pemanfaatan lahan marginal dan penguatan pasar dari hulu hingga hilir, Pemkab Bantul menargetkan sorgum tidak kembali berhenti pada tahap budidaya. Komoditas tersebut diharapkan berkembang menjadi sumber pangan lokal sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi petani.