Periskop.id - Masyarakat Kabupaten Sleman belakangan ini digegerkan oleh sebuah fenomena alam yang tidak biasa sekaligus mencemaskan. Sebuah rumah milik warga di wilayah Padukuhan Kasuran, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, dilaporkan terus menerus memunculkan titik api misterius. 

Kejadian aneh ini tercatat sudah terjadi lebih dari 90 kali sejak pertama kali melanda pada hari Sabtu (23/5) lalu. 

Advertisement

Berdasarkan informasi resmi yang dihimpun, pemilik rumah yang bernama Mutfiana mengaku pertama kali menemukan adanya titik api tersebut pada hari Sabtu (23/5) Mei lalu. Sejak hari pertama penemuan itu, intensitas kemunculan api justru semakin bertambah pada hari-hari berikutnya.

Kondisi di dalam kediaman Mutfiana kian mengkhawatirkan karena dalam kurun waktu satu hari saja, kobaran api diperkirakan dapat muncul secara tiba-tiba sebanyak 7 hingga 9 kali di berbagai sudut rumah. 

Guna merespons kondisi darurat dan mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan di lokasi kejadian, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman bersama sejumlah instansi terkait langsung bergerak cepat. 

Langkah penanganan awal yang dilakukan adalah dengan menyiagakan unit pemadam kebakaran beserta tim relawan di sekitar lokasi kejadian agar dapat memberikan respons cepat jika api kembali membesar.

Kolaborasi Lintas Pakar untuk Meneliti Akar Masalah

Mengingat sifat fenomena ini yang tidak lazim, BPBD Sleman tidak ingin gegabah dalam mengambil kesimpulan. Otoritas penanggulangan bencana tersebut langsung melibatkan berbagai tim ahli dari lembaga pendidikan dan riset terkemuka di Indonesia. 

Beberapa instansi yang diterjunkan ke lokasi antara lain tim pakar dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), hingga Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG).

Proses analisis tim gabungan ini difokuskan secara mendalam pada berbagai kemungkinan yang bisa menjadi pemantik kebakaran. Investigasi mencakup pemeriksaan unsur kandungan gas di dalam tanah, struktur geologi kawasan setempat, hingga faktor-faktor lingkungan pendukung lainnya. 

Langkah berbasis ilmiah ini diambil agar pemerintah daerah dapat merumuskan kebijakan penanganan yang tepat dan akurat bagi keselamatan penghuni rumah serta warga sekitar.

"Kami harus bertindak berdasarkan data yang pasti. Apakah nantinya perlu pengungsian, pengosongan lokasi, atau langkah lainnya, semua bergantung pada rekomendasi hasil penelitian para pakar," kata Kepala Pelaksana BPBD Sleman Bambang Kuntoro di Sleman, Kamis (4/6), seperti dikutip oleh Antara.

Dugaan Reaksi Gas Limbah Organik Menurut Analisis Awal UGM

Pihak UGM melalui laporan resmi di laman resminya memberikan sebuah asumsi sementara terkait apa yang sebenarnya terjadi di Seyegan. 

Berdasarkan kajian awal yang telah dilakukan, tim peneliti UGM menduga bahwa pemicu utama dari munculnya puluhan titik api tersebut adalah adanya reaksi kimia antara gas hidrogen dengan gas fosfin. 

Kedua jenis gas beracun dan mudah terbakar ini disinyalir kuat berasal dari proses fermentasi limbah organik yang bersumber dari aktivitas pemotongan ayam di area belakang rumah Muftiana.

“Selain hidrogen, tim juga mengasumsikan gas fosfin dari fosfat (tulang dan bulu ayam) yang memicu kebakaran ketika keluar bersamaan dengan hidrogen,” tulis laporan tersebut.

Guna meminimalkan risiko kebakaran susulan yang membahayakan jiwa, tim peneliti UGM langsung memberikan beberapa rekomendasi taktis bagi pemilik rumah. Mutfiana disarankan untuk membuka sirkulasi udara di dalam rumah selebar-lebarnya dan memasang perangkat kipas angin. 

Langkah ini dinilai penting untuk menghalau rembesan gas agar tidak berkumpul dalam kadar atau konsentrasi yang cukup tinggi yang dapat memantik api secara otomatis. Selain itu, pemilik rumah juga diminta segera mengeluarkan barang-barang yang sifatnya mudah terbakar dari dalam ruangan.

Sebagai langkah penanganan lanjutan di area tanah, pihak kampus menyatakan kesiapannya untuk melakukan tindakan mitigasi kimia.

“Tim UGM akan membantu melakukan penjenuhan cairan basa (air kapur) pada tanah dan lantai rumah, untuk menekan kemungkinan adanya bakteri Clostridium yang berperan dalam menghasilkan gas hidrogen,” jelas tim peneliti UGM.

Temuan Retakan Kedalaman 20 Meter dan Bantahan dari BRIN

Meskipun teori mengenai gas limbah pemotongan ayam ini telah dipaparkan, pihak peneliti menegaskan bahwa hal tersebut masih sebatas asumsi awal yang belum bisa dipastikan sepenuhnya sebagai kebenaran mutlak. 

Dinamika investigasi di lapangan pun terus berkembang. Kabar terbaru yang dihimpun dari berbagai sumber menunjukkan bahwa tim peneliti UGM kembali menemukan bukti fisik baru di lapangan setelah melakukan serangkaian pemeriksaan mendalam di titik-titik yang menjadi lokasi kemunculan api.

Dari hasil pemeriksaan sementara tersebut, tim ahli mendeteksi adanya beberapa titik retakan struktur tanah di bawah rumah pada kedalaman sekitar 20 meter. 

Retakan vertikal di bawah tanah ini diduga kuat menjadi jalur utama atau pipa alami bagi keluarnya gas bertekanan ke permukaan hingga masuk ke dalam rumah warga. Kendati demikian, temuan retakan geologi ini masih harus diolah dan diteliti lebih lanjut sebelum diambil kesimpulan akhir.

Di sisi lain, jalannya penelitian ini juga diwarnai oleh perbedaan pandangan ilmiah antarlembaga riset. Bertolak belakang dengan dugaan awal yang disampaikan oleh tim UGM mengenai adanya akumulasi gas yang terperangkap dari limbah sekitar, BRIN justru mengeluarkan pernyataan bantahan. 

Menurut analisis dari para peneliti BRIN, keberadaan gas metana yang dihasilkan dari limbah di sekitar lokasi kejadian diduga kuat langsung terbuang bebas ke atmosfer dan menguap di udara terbuka. 

Berdasarkan kajian kedaruratan mereka, gas metana tersebut tidak lagi mengendap atau terperangkap di dalam pori-pori tanah, sehingga kecil kemungkinan menjadi pemicu utama kebakaran di dalam bangunan. 

Perbedaan argumen ilmiah ini membuat misteri puluhan titik api di Seyegan masih menjadi teka-teki yang terus digali oleh para peneliti.