Periskop.id - Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengingatkan wisatawan agar lebih waspada terhadap maraknya penipuan pemesanan penginapan yang kerap muncul menjelang musim liburan dan lonjakan kunjungan wisata. Dinas Pariwisata (Dispar) DIY meminta, calon pelancong memesan hotel atau akomodasi hanya melalui situs resmi maupun platform terpercaya guna menghindari kerugian.

Kepala Dispar DIY Imam Pratanadi mengatakan, tingginya minat wisata ke Yogyakarta, terutama saat destinasi tertentu viral di media sosial, sering dimanfaatkan oknum tidak bertanggung jawab untuk melakukan penipuan berkedok penyewaan penginapan.

"Kita harus waspada ya, terutama teman-teman calon wisatawan agar kemudian memastikan bahwa pemesanan akomodasi itu dari situs-situs yang resmi," kata Imam di Yogyakarta, Minggu (24/5). 

Menurut dia, wisatawan sebaiknya tidak mudah percaya pada penawaran akomodasi yang hanya beredar dari mulut ke mulut, ataupun akun media sosial yang tidak jelas kredibilitasnya. Imam mencontohkan, fenomena viralnya sejumlah destinasi wisata seperti kawasan Kalitalang di lereng Gunung Merapi yang belakangan ramai dikunjungi wisatawan, turut memunculkan peluang penyalahgunaan oleh oknum tertentu.

"Penipuan pasti karena ada kesempatan, apalagi seperti ini banyak orang yang memanfaatkan kondisi, misalnya di satu tempat pendakian di Gunung Merapi, di Kalitalang itu sudah bilang semua Indonesia pindah ke Kalitalang,"ujarnya.

Ia menilai tren wisata berbasis media sosial membuat lonjakan permintaan penginapan meningkat drastis, terutama dari wisatawan domestik. Situasi tersebut kerap dimanfaatkan pelaku penipuan dengan memasang iklan palsu atau menawarkan kamar fiktif melalui media sosial dan aplikasi percakapan.

"Tentu saja kami mengimbau agar kemudian wisatawan yang akan memanfaatkan sumber-sumber informasi, melalui sumber yang sudah terbukti bertanggung jawab. Karena kejadian sudah memang sangat masif belakangan ini," tuturnya.

Dispar DIY juga meminta masyarakat dan pelaku industri pariwisata ikut aktif melaporkan apabila menemukan indikasi penipuan akomodasi wisata. Pemerintah daerah, kata Imam, siap berkoordinasi untuk menindaklanjuti laporan hingga proses penegakan hukum apabila ditemukan unsur pidana.

"Apabila menemukan itu (penipuan) kita harap bisa menyampaikan kepada kami, kami minta peran sertanya gitu. Untuk kemudian apabila ada yang teridentifikasi gitu, ya itu bisa disampaikan," ucapnya. 

 

Malioboro Yogyakarta
Pengunjung berwisata di kawasan Malioboro, Yogyakarta, Selasa (23/12/2025). Antara/Andreas Fitri Atmoko

 

Iklan Media Sosial
Menurut Imam, salah satu modus yang sering digunakan pelaku adalah menghubungi calon wisatawan secara langsung, setelah memperoleh informasi mengenai kedatangan tamu dari media sosial maupun jaringan tertentu.

"Atau mungkin mereka memasang iklan itu di media sosial. Itu sangat mungkin. Jadi tolong gunakan informasi yang memang sudah bertanggung jawab. Banyak penyedia informasi penginapan, akomodasi yang kemudian terpercaya untuk bisa dimanfaatkan," imbuhnya. 

Ia menambahkan, hingga kini belum ada laporan resmi yang masuk ke Dispar DIY terkait kasus penipuan penginapan. Namun, pemerintah siap melakukan pelacakan apabila masyarakat memberikan bukti atau nomor kontak pelaku.

"Tapi sampai sekarang pelaporan secara resmi belum ada ke kami. Dan kalau itu sudah ada, pastinya ada nomor telepon yang bisa kita usut, kita lacak, itu mungkin. Tapi akan lebih baik kalau ada pengaduan masyarakat," kata Imam.

DIY sendiri menjadi salah satu destinasi wisata paling ramai di Indonesia, terutama saat musim libur panjang dan akhir pekan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, tingkat kunjungan wisatawan ke Yogyakarta terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, didorong tren wisata budaya, alam, hingga destinasi viral di media sosial.

Sebelumnya, Kementerian Pariwisata juga pernah mengingatkan wisatawan agar berhati-hati terhadap praktik penipuan pemesanan hotel online, dengan selalu memverifikasi akun resmi, mengecek ulasan