periskop.id - Harga emas global diproyeksikan akan menembus rekor baru dalam satu dekade mendatang. Praktisi pasar modal Hans Kwee memperkirakan emas bisa menembus US$10.000 per troy ons atau sekitar Rp168,38 juta (dengan kurs Jisdor Rp16.838 per dolar AS) pada tahun 2030.
“Emas tahun 2030 diperkirakan menembus 10.000 dolar AS per troy ons, tapi ini masih empat tahun lagi. Tahun ini saja targetnya sudah 5.400 dolar AS per troy ons,” ujar Hans dalam Edukasi Wartawan Pasar Modal, dikutip Sabtu (23/1).
Menurut Hans, lonjakan harga emas tidak terjadi secara kebetulan. Ada sejumlah faktor global yang memicu permintaan emas meningkat, termasuk melemahnya ekonomi dunia, kebijakan moneter yang tetap longgar, serta risiko geopolitik yang tinggi.
"Kombinasi faktor-faktor ini membuat emas kembali menjadi pilihan utama investor sebagai aset safe haven," tambahnya
Selain faktor makroekonomi, Hans menyoroti aksi besar-besaran bank sentral dunia dalam menambah cadangan emas.
"Bank sentral sekarang bukan cuma memegang dolar, tapi emas menjadi aset inti mereka,” jelasnya.
Hal ini menandai pergeseran strategi global dari ketergantungan pada mata uang fiat menuju logam mulia. Ekspektasi pelemahan dolar AS juga menjadi pendorong utama harga emas. Investor global semakin khawatir dengan ketidakpastian nilai dolar akibat kebijakan ekonomi dan ketegangan perdagangan internasional.
"Orang ramai-ramai beli emas karena menyadari tidak bisa lagi sepenuhnya mengandalkan dolar,” kata Hans.
Kondisi geopolitik yang memanas semakin memperkuat tren ini. Pasca perang Rusia-Ukraina, aset dolar Rusia dibekukan, mendorong investor global untuk mencari alternatif aset yang lebih aman.
Selain itu, kebijakan perdagangan Presiden AS Donald Trump beberapa tahun lalu turut menimbulkan ketidakpastian, sehingga investor semakin melirik emas sebagai pelindung nilai.
Hans juga menekankan peran sektor swasta yang kini meningkat permintaannya terhadap emas, baik dalam bentuk fisik maupun instrumen derivatif. Kombinasi dari investor individu, korporasi, dan bank sentral ini menciptakan efek dominoyang mendorong harga emas naik secara signifikan.
“Jadi kenaikan emas itu bukan hanya soal geopolitik atau ekonomi, tapi dunia sedang berubah. Dari ketergantungan pada dolar menuju aset yang lebih stabil yaitu emas,” tutur Hans.
Dengan proyeksi harga yang terus meningkat, Hans mengingatkan investor untuk memperhatikan timing dan strategi investasi.
"Bagi sebagian investor, ini bisa menjadi momentum untuk masuk sebelum harga meroket lebih tinggi menuju target 2030," pungkasnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar