periskop.id - Harga emas mencetak rekor tertinggi sepanjang masa dan semakin mendekati level US$5.000 per ons. Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik global serta melemahnya nilai tukar dolar Amerika Serikat.

Pada perdagangan Jumat, harga emas batangan sempat menembus US$4.967 per ons dan berada di jalur kenaikan mingguan hampir 8%. Pelemahan dolar AS membuat emas dan logam mulia lainnya menjadi lebih menarik bagi investor global. Selain emas, harga perak dan platinum juga ikut mencatatkan rekor tertinggi.

Indeks kekuatan dolar AS tercatat turun sekitar 0,8% sepanjang pekan ini. Kondisi tersebut memberikan dorongan tambahan bagi harga logam mulia, yang umumnya bergerak berlawanan arah dengan dolar.

Melansir Yahoo Finance, Jumat (23/1), analis strategi Pepperstone Group Ltd, Ahmad Assiri, mengatakan pasokan emas saat ini tidak cukup untuk mengimbangi meningkatnya kebutuhan investor dalam menghadapi ketegangan politik dan pasar di Amerika Serikat. Menurutnya, keterbatasan pasokan membuat batas atas harga emas menjadi rentan ditembus.

Setelah mencatatkan kinerja tahunan terbaik sejak 1979, harga emas melanjutkan reli tajam dengan kenaikan sekitar 15% sejak awal tahun ini. Lonjakan harga tersebut dipicu oleh kembali menguatnya tekanan politik terhadap Federal Reserve, menyusul kritik Presiden AS Donald Trump terhadap independensi bank sentral tersebut.

Sentimen positif emas juga diperkuat oleh berbagai isu geopolitik, mulai dari intervensi militer AS di Venezuela hingga ancaman untuk mencaplok Greenland. Situasi ini mendorong investor menjauhi obligasi dan mata uang negara, lalu beralih ke aset lindung nilai seperti emas.

Meski Trump sempat menarik kembali ancaman pengenaan tarif dagang terhadap negara-negara Eropa, kesepakatan yang meredakan krisis Greenland justru mencakup penempatan rudal AS di wilayah tersebut, pemberian hak penambangan, serta penguatan kehadiran keamanan NATO.

Assiri menilai dinamika geopolitik ini menunjukkan bahwa negara-negara Eropa berukuran menengah semakin tersisih dari meja perundingan. Ia menyebut negara-negara tersebut berisiko menjadi objek kebijakan, bukan lagi pihak yang ikut menentukan arah negosiasi.

Pelaku pasar juga menantikan penunjukan Ketua Federal Reserve yang baru, setelah Trump menyatakan telah menyelesaikan proses wawancara kandidat dan sudah memiliki pilihan. Jika pimpinan The Fed berikutnya bersikap lebih dovish, peluang pemangkasan suku bunga lanjutan tahun ini diperkirakan meningkat, yang biasanya menguntungkan emas karena tidak memberikan imbal hasil bunga.

Sementara itu, Goldman Sachs Group Inc. menaikkan proyeksi harga emas akhir tahun menjadi US$5.400 per ons, dari sebelumnya US$4.900 per ons. Kenaikan proyeksi tersebut didorong oleh meningkatnya permintaan dari investor swasta dan bank sentral di tengah ketidakpastian kebijakan global.

Analis Goldman Sachs, Daan Struyven dan Lina Thomas, menilai risiko pergerakan harga emas kini lebih condong ke arah kenaikan. Mereka menyebut investor sektor swasta masih berpotensi meningkatkan diversifikasi aset di tengah ketidakpastian global yang berkepanjangan.

Harga perak ikut melonjak mendekati US$100 per ons seiring reli emas. Logam putih tersebut telah naik lebih dari tiga kali lipat dalam setahun terakhir, didorong oleh fenomena short squeeze yang besar serta lonjakan pembelian ritel, sehingga bank dan perusahaan pemurnian kesulitan memenuhi permintaan.

Ketidakjelasan kebijakan China terkait izin ekspor turut memperkuat persepsi kelangkaan pasokan. Pasar logam mulia pun tetap sangat volatil meskipun Amerika Serikat memutuskan tidak mengenakan tarif impor menyeluruh terhadap mineral penting seperti perak dan platinum.

Pada perdagangan terakhir, harga emas tercatat naik 0,4% menjadi US$4.956,08 per ons pada pukul 10.31 waktu Singapura. Harga perak melonjak 2,5% ke level US$98,60 per ons. Platinum naik 0,5% setelah sebelumnya menyentuh rekor US$2.690,08 per ons, sementara harga palladium sedikit melemah. Adapun Bloomberg Dollar Spot Index bergerak datar setelah pada sesi sebelumnya turun 0,3%.