‎‎periskop.id - Pengamat mata uang dan komoditas berjangka Ibrahim Assuabi memperkirakan harga emas logam mulia masih berpotensi melanjutkan kenaikan. Faktor utama pendorongnya adalah meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, khususnya antara Iran dan Amerika Serikat (AS).

‎Menurut Ibrahim, pergerakan kapal induk kedua milik AS yang mendekati kawasan Timur Tengah memicu kembali kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik dengan Iran. Ketegangan tersebut mendorong investor global mencari aset safe haven, termasuk emas.

‎Di sisi lain, pelemahan nilai tukar rupiah turut memperkuat kenaikan harga emas di dalam negeri. Kondisi ini dinilai wajar memicu masyarakat beralih ke instrumen lindung nilai.

‎"Ini membuat ketegangan kembali meningkat, di sisi lain pun juga rupiah yang kembali melemah ini membuat harga logam mulia akan kembali naik sehingga wajar kalau seandainya masyarakat saat ini sudah kembali ya mencari aset yang aman sebagai lindung nilai," kata Ibrahim dalam keterangannya, Senin (16/2). 

‎Ia juga menyoroti dinamika politik di AS menjelang pemilu sela anggota DPR yang dinilai dapat memicu ketidakpastian baru, termasuk terkait isu imigrasi dan arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat. Spekulasi kebijakan moneter tersebut turut memengaruhi sentimen pasar global. 

‎"Oleh karena itu edukasi yang dilakukan oleh media, oleh masyarakat, oleh pemerintah ini mendukung masyarakat untuk melakukan pembelian apalagi masyarakat saat ini condong menginvestasikan dananya di logam mulia," paparnya. 

‎Di dalam negeri, tingginya minat masyarakat terhadap emas terlihat dari permintaan fisik yang kerap tidak terpenuhi di sejumlah gerai penjualan, baik di butik emas Antam maupun pegadaian. Meski sudah tersedia produk emas digital atau bullion bank, mayoritas masyarakat dinilai masih lebih memilih emas fisik.

‎"Nah ini yang dilakukan oleh masyarakat karena selama ini masyarakat melakukan pembelian selalu logam mulia baik di gerai Antam maupun di pegadaian itu tidak ada barangnya. Walaupun sudah ada bullion bank ya emas digital tapi masyarakat lebih condong memilih yang ada fisiknya," jelas dia.

‎Ibrahim menilai masyarakat semakin responsif terhadap dinamika global maupun kondisi ekonomi domestik. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,11% pada 2025 serta meningkatnya kepercayaan konsumen menunjukkan perputaran uang yang kembali membaik. 

‎Momentum tersebut, kata Ibrahim dimanfaatkan masyarakat untuk berinvestasi pada logam mulia sebagai instrumen lindung nilai di tengah ketidakpastian global.

‎"Kepercayaan konsumen pun juga mengalami peningkatan mengindikasikan bahwa perputaran uang kembali beredar ya dan ini dimanfaatkan oleh masyarakat untuk melakukan investasi di logam mulia sebagai lindung nilai," tutup dia.