periskop.id - Harga emas dunia mengalami penurunan tajam, seiring penguatan dolar Amerika Serikat di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi, menyebut harga emas dunia ditutup melemah signifikan ke level 4.497,37 dolar AS per troy ounce. Penurunan ini turut menyeret harga logam mulia ke level Rp2.893.000 per gram.
“Sabtu pagi harga emas dunia ditutup turun tajam di 4.497,37 dolar per troy ounce, kemudian logam mulia ditutup jatuh juga di Rp2.893.000 per gram,” ujarnya, Senin (23/1).
Menurutnya, pelemahan harga emas tidak lepas dari pergeseran preferensi investor yang beralih ke dolar AS sebagai aset safe haven utama di tengah kondisi geopolitik yang memanas.
“Yang sebenarnya membuat emas itu tergelincir dan investor itu berpindah ke safe haven-nya adalah dolar Amerika,” jelas Ibrahim.
Ia menambahkan, penguatan dolar didorong oleh ekspektasi kebijakan suku bunga global yang masih tinggi, serta meningkatnya ketegangan geopolitik, khususnya di kawasan Timur Tengah. Indeks dolar diperkirakan akan bergerak pada kisaran support 98,73 dan resistance 101,20, dengan kecenderungan menguat menuju level 101,20 dalam waktu dekat.
“Dalam transaksi minggu depan kemungkinan indeks dolar ini akan kembali menguat menuju 101,20,” katanya.
Sejalan dengan penguatan dolar, nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan dan cenderung melemah pada perdagangan pekan depan.
Ia menilai pelemahan rupiah justru akan menahan penurunan harga logam mulia di dalam negeri, meskipun harga emas dunia mengalami koreksi.
“Dalam transaksi minggu depan kemungkinan mata uang rupiah masih akan terus mengalami pelemahan, sehingga menahan turunnya harga logam mulia,” ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, harga emas domestik diperkirakan tidak akan turun terlalu dalam dan berpotensi cenderung stabil.
“Walaupun harga emas dunia mengalami penurunan, logam mulia kemungkinan akan kembali stabil dan menuju level Rp3 jutaan,” tambahnya.
Selain faktor dolar, ketidakpastian geopolitik juga turut memengaruhi pergerakan pasar. Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel memicu kekhawatiran investor, yang kemudian mendorong aliran dana ke dolar.
Meski demikian, ia menilai pelemahan emas saat ini bersifat sementara dan lebih dipicu oleh sentimen jangka pendek.
“Walaupun penurunan harga emas dunia logam mulia sampai saat ini, saya masih optimis bahwa harga emas dunia ini akan kembali menguat, tinggal menunggu momentum saja,” tutupnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar