periskop.id - Harga minyak dunia menguat pada Kamis setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat tengah menyiapkan sanksi baru terhadap Rusia jika Moskow tidak menyepakati perjanjian damai dengan Ukraina. Kenaikan harga juga dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap risiko pasokan akibat rencana pemblokiran kapal tanker minyak Venezuela.
Melansir Reuters, Kamis (18/12), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 44 sen atau 0,79% ke level USD 56,38 per barel pada pukul 02.56 GMT. Kenaikan ini sempat lebih tinggi, karena WTI sempat melonjak lebih dari USD 1 per barel saat pembukaan perdagangan sebelum memangkas sebagian penguatannya. Sementara itu, harga minyak mentah Brent naik 42 sen atau 0,7% menjadi USD 60,10 per barel.
Pada Rabu, Bloomberg melaporkan bahwa Amerika Serikat sedang menyiapkan putaran sanksi tambahan terhadap sektor energi Rusia jika Moskow tidak menyetujui kesepakatan damai dengan Ukraina. Laporan tersebut mengutip sumber yang mengetahui pembahasan tersebut. Namun, seorang pejabat Gedung Putih mengatakan kepada Reuters bahwa Presiden Donald Trump belum mengambil keputusan terkait sanksi baru terhadap Rusia.
Analis ING menilai langkah lanjutan yang menargetkan minyak Rusia berpotensi menimbulkan risiko pasokan yang lebih besar bagi pasar dibandingkan pengumuman Trump pada Selasa lalu, yakni rencana Amerika Serikat untuk memblokade kapal tanker yang dikenai sanksi yang masuk dan keluar dari Venezuela.
“Dengan prospek surplus pasokan dan harga Brent yang diperdagangkan di kisaran USD 60 per barel, Trump memiliki ruang untuk bersikap lebih agresif dalam menerapkan sanksi,” tulis ING dalam catatannya.
Bloomberg juga melaporkan bahwa Amerika Serikat tengah mempertimbangkan untuk menargetkan “armada bayangan” Rusia, yakni kapal-kapal yang digunakan untuk mengangkut minyak yang terkena sanksi, serta para pedagang yang memindahkan minyak tersebut ke berbagai belahan dunia. Langkah-langkah baru tersebut berpotensi diumumkan paling cepat pekan ini.
Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin pada Rabu mengancam akan merebut lebih banyak wilayah Ukraina dengan kekuatan militer jika Eropa tidak terlibat dalam proposal penyelesaian yang diajukan Amerika Serikat. Ancaman tersebut disampaikan setelah beberapa hari perundingan yang sejauh ini belum membuahkan hasil.
Rencana pemblokiran terhadap Venezuela berisiko mengganggu sekitar 600.000 barel per hari (bph) ekspor minyak Venezuela, yang sebagian besar dikirim ke China. Namun, sekitar 160.000 bph ekspor minyak Venezuela ke Amerika Serikat kemungkinan tetap berlanjut, menurut ING. Kapal-kapal milik Chevron (CVX.N) masih terus berlayar menuju Amerika Serikat berdasarkan izin sebelumnya yang diberikan oleh pemerintah AS.
Sebagian besar ekspor minyak Venezuela lainnya masih tertahan hingga Rabu. Meski demikian, perusahaan minyak negara PDVSA kembali memulai pemuatan kargo minyak mentah dan bahan bakar setelah sempat menghentikan operasi akibat serangan siber, berdasarkan keterangan sumber dan data kepabeanan.
Hingga kini, belum jelas bagaimana pemblokiran oleh Amerika Serikat tersebut akan ditegakkan. Pekan lalu, Penjaga Pantai AS mengambil langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan menyita sebuah kapal tanker minyak Venezuela. Sumber-sumber menyebutkan bahwa Amerika Serikat tengah bersiap melakukan lebih banyak tindakan pencegatan serupa.
Minyak mentah Venezuela menyumbang sekitar 1% dari pasokan minyak global. Sebagian besar minyak tersebut dikirim ke China. Namun, sumber pasar menyebutkan bahwa lemahnya permintaan serta melimpahnya pasokan minyak yang tersimpan di kapal-kapal penyimpanan terapung di Asia membuat dampak kebijakan tersebut terhadap importir minyak terbesar dunia itu masih terbatas.
Tinggalkan Komentar
Komentar