periskop.id – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai pintu bagi Indonesia untuk berperan strategis di kancah ekonomi global kini terbuka semakin lebar. Kendati demikian, kesiapan sektor energi tetap menjadi faktor penentu utama dalam merealisasikan ambisi besar tersebut.

“Kondisi ini memberi ruang agar produk-produk unggulan Indonesia tetap berlanjut dan memperluas pasar,” kata Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie saat ditemui usai menghadiri forum Global Economic Outlook di Menara Kadin, Jakarta, dikutip Sabtu (17/1).

Anindya menjelaskan bahwa akses perdagangan produk nasional saat ini sangat kondusif. Jalur ekspor terbentang luas mulai dari negara-negara Eropa, Kanada, kawasan Eurasia, hingga pasar raksasa Amerika Serikat.

Hubungan dagang dengan Amerika Serikat secara khusus dinilai sedang dalam tren positif. Situasi ini menjadi momentum emas bagi para pelaku usaha untuk meningkatkan volume pengiriman produk ke pasar internasional.

Beberapa komoditas andalan siap menjadi ujung tombak ekspor. Sektor minyak sawit, alas kaki, garmen, elektronik, hingga furnitur dinilai memiliki daya saing kompetitif yang kuat untuk menembus persaingan global.

Kadin memandang posisi Indonesia tidak boleh hanya berhenti sebagai eksportir semata. Dengan akses yang ada, Indonesia berpotensi naik kelas menjadi pusat produksi dan bagian integral dari rantai pasok dunia.

Namun, Anindya memberikan catatan kritis terkait ketersediaan energi. Ambisi ekonomi digital yang kini dikejar pemerintah, seperti pengembangan pusat data (data center) dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), sangat haus akan pasokan listrik.

Sebagai gambaran, pengembangan infrastruktur AI di Amerika Serikat saja membutuhkan daya hingga 250 gigawatt. Tren lonjakan konsumsi energi serupa dipastikan akan merambah Indonesia seiring masifnya adopsi teknologi.

“Hampir seluruh aktivitas ekonomi, terutama ekonomi digital, sangat bergantung pada energi. Tanpa ketahanan energi yang kuat, sulit berbicara soal peran global,” tegas Anindya mengingatkan.

Indonesia sejatinya memiliki modal resiliensi ekonomi yang cukup tangguh. Namun, ketahanan ini harus terus diuji lewat pembangunan infrastruktur dan kepastian iklim usaha agar mampu memenangkan kompetisi perebutan investasi global.