periskop.id – Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memproyeksikan laju investasi domestik pada tahun 2026 bakal mengalami peningkatan signifikan, utamanya ditopang oleh kinerja Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan intervensi aktif lembaga Danantara.

“Kalau sebelumnya investasi dalam negeri bergerak lambat, sekarang akan meningkat berkat peran Danantara,” tegas Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan P. Roeslani saat ditemui di kantornya, Jakarta, dikutip Sabtu (17/1).

Rosan optimistis PMDN akan menjadi motor penggerak utama perekonomian nasional tahun depan. Keyakinan ini berkaca pada data tahun 2025, di mana PMDN tumbuh impresif sebesar 26,6% menjadi Rp1.030,3 triliun.

Angka tersebut jauh melampaui pertumbuhan Penanaman Modal Asing (PMA) yang tercatat hanya naik tipis 0,1% di angka Rp900,9 triliun. Meski arus modal asing diprediksi melambat, akselerasi investasi tetap terjaga berkat kekuatan pemodal dalam negeri.

Kehadiran Danantara dinilai Rosan sebagai faktor kunci atau game changer. Lembaga ini akan berfungsi mempercepat realisasi investasi di berbagai sektor strategis sehingga pergerakan modal domestik menjadi lebih lincah dibanding sebelumnya.

Pemerintah juga telah memetakan sejumlah sektor primadona yang bakal didorong. Fokus utamanya meliputi industri kimia, sektor kesehatan, serta proyek transisi energi seperti pengolahan sampah menjadi energi listrik (waste to energy).

“Proses bidding untuk pengelolaan sampah sudah berjalan, dan konsumsi awal diperkirakan mulai pada Maret 2026. Strategi ini mempercepat PMDN sekaligus melibatkan investor swasta dan asing, menciptakan kolaborasi optimal dalam hal teknologi, pengetahuan, dan modal,” paparnya.

Secara kuantitatif, Kementerian Investasi siap menggelar karpet merah untuk enam proyek baru dengan nilai fantastis mencapai US$2,8 miliar. Proyek-proyek ini diharapkan mampu menciptakan multiplier effect bagi ekonomi daerah.

Keenam proyek jumbo tersebut menyasar sektor hilirisasi bauksit, alumina, aluminium, hingga peternakan. Adapun lokasinya tersebar di beberapa titik potensial, antara lain Kalimantan Barat, Cilacap (Jawa Tengah), dan Banyuwangi (Jawa Timur).

Dari total 13 proyek prioritas yang masuk dalam pipeline pemerintah, lima di antaranya dinyatakan telah mencapai tahap visibilitas yang matang. Kelima proyek ini siap dieksekusi dalam waktu dekat.

Mengenai dinamika ekonomi global yang memicu fluktuasi nilai tukar, Rosan memastikan kondisi rupiah saat ini masih dalam batas wajar. Hal tersebut dinilai tidak akan menyurutkan minat pemodal asing untuk masuk ke Indonesia.

“Pergerakan rupiah sudah diperhitungkan oleh investor saat menanamkan modalnya di Indonesia, sehingga masih dalam range yang sangat-sangat acceptable,” pungkas Rosan.