periskop.id - Harga minyak mentah melonjak lebih dari 3% pada Kamis setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan tengah mempertimbangkan serangan militer terhadap Iran, anggota OPEC.

Melansir CNBC International, Jumat (30/1), Minyak mentah AS naik US$2,21 atau 3,5%, ditutup pada US$65,42 per barel. Sementara patokan global Brent menguat US$2,31 atau 3,38%, berakhir di level US$70,71 per barel.

Menurut sejumlah sumber, Trump sedang menimbang serangan terbatas terhadap pasukan keamanan dan para pemimpin Iran dengan tujuan mendorong demonstran anti-pemerintah. Dua sumber AS menyebutkan, presiden ingin menciptakan kondisi yang dapat mengarah pada perubahan rezim di Teheran.

Awal bulan ini, Republik Islam Iran melancarkan operasi keamanan besar-besaran untuk meredam aksi protes, yang menurut laporan telah menewaskan ribuan orang.

Pasar minyak kini mencermati apakah gejolak di Iran, ditambah kemungkinan intervensi militer AS, dapat mengganggu pasokan minyak mentah dari kawasan tersebut.

Trump sendiri telah mengirim Abraham Lincoln Carrier Strike Group ke Timur Tengah. Pada Rabu, ia memperingatkan Iran bahwa waktu semakin sempit untuk mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya.

Presiden juga mengancam Teheran dengan serangan yang lebih besar dibandingkan serangan AS pada Juni lalu, yang menargetkan fasilitas nuklir Iran.

“Serangan berikutnya akan jauh lebih buruk! Jangan sampai itu terjadi lagi,” tulis Trump di akun Truth Social.