periskop.id - PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional I Sumatera Utara menyebutkan, seluruh lokomotif maupun pembangkit yang beroperasi di Divre I Sumut, kini telah menggunakan bahan bakar minyak (BBM) jenis biosolar B40 sebagai bentuk inovasi energi.
"Seluruh mesin diesel di KAI Divre I Sumatera Utara telah menggunakan biosolar B40, yakni campuran 60% solar dan 40% biodiesel. Bahan bakar ini memiliki kelebihan dalam meningkatkan kinerja mesin dan menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah, sejalan dengan target Net Zero Emission (NZE) 2060," kata Plt. Manager Humas KAI Divre I Sumatera Utara, Anwar Yuli Prastyo di Medan, Rabu (15/4).
Anwar menambahkan, biosolar B40 juga bersifat biodegradable atau mudah terurai oleh mikroorganisme sehingga meminimalkan dampak polusi pada tanah dan air di lingkungan sekitar jalur kereta api. Selain mengelola BBM subsidi, KAI Divre I Sumut juga mencatat penggunaan 151.188 liter BBM nonsubsidi dalam tiga bulan terakhir.
Alokasi BBM nonsubsidi ini digunakan secara spesifik untuk layanan angkutan barang, serta operasional alat kerja dan Mesin Perawatan Jalan Rel (MPJR). Hal ini guna memastikan standar keselamatan jalur tetap terjaga, tanpa membebani kuota subsidi masyarakat.
Ia menyebutkan penerapan biosolar B40 pada armada kereta api merupakan komitmen KAI terhadap transformasi transportasi hijau yang berbasis pada prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). KAI. Lanjutnya, berupaya memastikan setiap tetes BBM subsidi yang dialokasikan negara digunakan secara tepat sasaran dan berdaya guna tinggi.
“KAI berkomitmen untuk terus menjadi tulang punggung transportasi di Sumatera Utara yang tidak hanya efisien dan terjangkau, tetapi juga ramah lingkungan. Sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh seluruh lapisan masyarakat," jelasnya.
Ia mengatakan, efisiensi penggunaan BBM pada kereta api memberikan dampak langsung bagi keterjangkauan biaya perjalanan masyarakat. Penggunaan BBM itu mencakup operasional lokomotif sebagai penggerak rangkaian serta mesin pembangkit yang menyuplai kebutuhan listrik untuk penerangan, penyejuk udara (AC), dan fasilitas pengisian daya bagi pelanggan selama perjalanan.
"Di tengah kondisi BBM yang semakin terbatas, kereta api hadir sebagai solusi mobilitas yang tetap hemat dan dapat diandalkan. Dengan daya angkut yang besar, kereta api menjadi transportasi yang efisien sehingga subsidi dari pemerintah dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat," ungkapnya.
Sambut B50
Sebelumnya, PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menyebutkan, seluruh lokomotif dan genset telah menggunakan energi hijau melalui biosolar B40. KAI Bahkan bersiap mengadopsi B50 guna mendukung efisiensi dan keberlanjutan transportasi nasional.
"Seluruh sarana lokomotif dan genset yang dioperasikan KAI telah menggunakan energi terbarukan melalui bahan bakar biosolar B40," kata Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba.
Dia menyampaikan pemanfaatan B40 merupakan dukungan KAI terhadap langkah strategis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam menghadirkan energi terbarukan di sektor transportasi.
Melalui penggunaan energi terbarukan ini, lanjut Anne, operasional kereta api menghasilkan emisi yang lebih rendah dan memperkuat perannya sebagai solusi logistik serta transportasi yang jauh lebih ramah lingkungan.
Ia menyampaikan sebagai pengguna teknologi energi hijau, KAI terus menjadi mitra mobilitas yang dapat diandalkan masyarakat. "Kami mengerti bahwa efisiensi dan biaya perjalanan yang terjangkau adalah hal yang sangat berarti bagi masyarakat. Di tengah kondisi BBM yang semakin terbatas, kereta api hadir sebagai solusi mobilitas yang tetap hemat dan bisa diandalkan," tutur Anne.
Menurutnya dengan menggunakan B40 hasil inovasi Kementerian ESDM, setiap pelanggan otomatis menjadi bagian dari transformasi besar menuju transisi energi nasional yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
"KAI menaruh perhatian besar dan siap mendukung langkah selanjutnya dari Kementerian ESDM, yaitu pengembangan B50," ucap Anne.
Sekadar informasi, strategi pemerintah dalam memperbesar pemanfaatan bahan bakar nabati (BBN), merupakan bagian dari strategi besar menuju kemandirian energi nasional serta pencapaian target net zero emission (NZE) 2060.
KAI, tambah Anne, sangat antusias menyambut kehadiran B50 yang nantinya dapat diterapkan pada perkeretaapian. Mengingat keselamatan perjalanan merupakan prioritas utama, seluruh sarana lokomotif dan genset yang akan menggunakan B50, dipastikan melalui rangkaian uji coba teknis terlebih dahulu sebelum resmi melayani pelanggan.
Lebih lanjut, dia mengatakan, KAI mendukung penuh rencana transisi ke B50 yang tengah digarap oleh Kementerian ESDM. Pemanfaatan energi terbarukan yang semakin maju membuat kereta api semakin unggul dalam menjaga kelestarian alam, sehingga kita bisa mewariskan lingkungan yang lebih sehat untuk generasi mendatang.
"Kesadaran masyarakat untuk beralih ke transportasi publik yang ramah lingkungan terus tergambar dari peningkatan volume pelanggan," beber Anne.
Ia menyebutkan selama kuartal I 2026, sebanyak 14.515.350 pelanggan menggunakan layanan KA Jarak Jauh dan Lokal. Angka ini tumbuh 18,4% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025 sebanyak 12.261.632 pelanggan.
Selain mengantar penumpang, kereta api terus bergerak mendukung kebutuhan vital ratusan juta masyarakat melalui angkutan logistik. Selama kuartal I 2026, KAI mengangkut 12.075.002 ton batu bara untuk memastikan ketersediaan listrik di Jawa dan Bali, serta 2.873.440 ton barang lainnya seperti peti kemas, hasil kebun, hingga kiriman ritel.
Tinggalkan Komentar
Komentar