Iklan
Film

Thirteen in Gaza Raih NETPAC Award di Toronto Film Festival

Film Palestina Thirteen in Gaza karya Hosam Abu Dan menyabet NETPAC Award di Toronto International Film Festival, mengangkat kisah gadis 13 tahun di tengah perang.

Thirteen in Gaza Raih NETPAC Award di Toronto Film Festival
Poster film Thirteen in Gaza. Dok. AFAC-Arab Culture Fund
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Film Palestina Thirteen in Gaza karya sutradara Hosam Abu Dan memenangkan NETPAC Award pada gelaran ke-51 Toronto International Film Festival 2026. Penghargaan tersebut diumumkan saat penutupan festival di Toronto pada Ahad (20/9).

NETPAC merupakan penghargaan yang diberikan Network for the Promotion of Asian Pacific Cinema khusus untuk film dari kawasan Asia-Pasifik. Thirteen in Gaza sebelumnya menjalani pemutaran perdana dunia lewat program Centrepiece di festival tersebut.

"Di tengah genosida yang sedang berlangsung, Thirteen in Gaza karya Hosam Abu Dan tidak mengubah penderitaan menjadi bukan tontonan maupun korban semata, melainkan gambar-gambar kehidupan yang menggugah dalam segala kompleksitasnya," kata juri NETPAC dalam pernyataan resmi yang dilansir Arab News, Rabu (23/9).

Juri yang beranggotakan Mara Matta, Richard Fung, dan Panagiotis Kotzathanasis itu menilai film garapan Abu Dan berani dan intim. Mereka menyebut karya ini menandai kemunculan suara baru dalam sinema.

Thirteen in Gaza menjadi film fiksi panjang pertama Abu Dan. Berdurasi 77 menit, film ini mengisahkan Raghad, gadis 13 tahun, dan ayahnya Abu Raghad yang berjuang menjalani hidup di Gaza pada 2025 setelah pengeboman menghancurkan rumah mereka dan menewaskan sejumlah anggota keluarga.

Raghad memasuki masa pubertas di sebuah kamp pengungsian yang penuh sesak, tanpa ibu, tanpa privasi, dan tanpa akses layak terhadap sanitasi dasar. Di sisi lain, Abu Raghad terjerumus ke ekonomi pasar gelap yang dikendalikan pedagang berpengaruh bernama Khalil.

Film ini dibintangi Firas Al-Masri, Ghassan Salem, Hanna Atallah, dan Mariam Ziyara. Skenario ditulis Khalil Al-Muzayyen, sinematografi digarap Yousef Mashharawi, sementara Hiba Othman berperan sebagai konsultan penyuntingan.

Abu Dan mengungkapkan, proses produksi berlangsung sangat berat. Pada hari keempat syuting, sebuah bom meledak di dekat lokasi pengambilan gambar hingga melukai serius seorang kru.

"Pada saat itu, saya bertanya kepada diri sendiri bagaimana kami bisa terus membuat film di tempat seperti ini, dan bagaimana sinema bisa bertahan ketika harganya adalah begitu banyak penderitaan," kata Abu Dan.

Meski menghadapi kondisi sulit, produksi tetap diselesaikan dengan melibatkan pemain dan kru lokal Palestina. Thirteen in Gaza tercatat sebagai film fiksi pertama yang dibuat di Gaza sejak The Idol karya Hany Abu-Assad pada 2014.

Film ini merupakan produksi bersama Palestina dan Qatar, diproduseri Abu Dan melalui rumah produksinya, New Scene for Media & Artistic Production. Proyek ini mendapat dukungan Doha Film Institute dan Arab Culture Fund (AFAC), dengan Hanna Atallah sebagai produser eksekutif.

Thirteen in Gaza juga menjadi debut Abu Dan sebagai sutradara film panjang. Sutradara asal Gaza itu telah berkarier di bidang film, televisi, dan produksi media sejak 2010, serta mendirikan New Scene for Media & Artistic Production pada 2016. Salah satu karyanya, dokumenter pendek Gaza Sound Man, tayang perdana di Sheffield DocFest pada 2025.

Hak penjualan Thirteen in Gaza untuk seluruh dunia kemudian diakuisisi MAD World, divisi penjualan film dari MAD Solutions yang berbasis di Kairo. Selain film ini, MAD World juga memasarkan drama Palestina Conversation With The Sea karya Muayad Alayan yang akan tayang perdana di Festival Film Venesia.

"Kami bangga mewakili film ini secara internasional. Abu Dan telah membuat debut yang intim dan kuat dalam menggambarkan konsekuensi kemanusiaan dari perang melalui kisah universal tentang keluarga, masa kanak-kanak, dan perjuangan untuk bertahan hidup," kata pendiri MAD Solutions, Alaa Karkouti dan Maher Diab.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Film, dan penghargaan dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.