Dorong Inflow Asing, BI Beri Diskon Cost Hedging hingga 30%
BI memberikan diskon biaya hedging hingga 30% bagi investor asing yang menempatkan dana dalam DNDF dengan tenor hingga satu tahun.

Periskop.id - Bank Indonesia (BI) memberikan insentif berupa diskon biaya hedging hingga 30% bagi investor asing yang menempatkan dananya dalam instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dengan tenor hingga satu tahun.
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya BI mendorong aliran dana asing masuk ke Indonesia sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global dan kondisi suku bunga yang masih tinggi.
Menurutnya, kondisi higher for longer di Amerika Serikat membuat aset-aset AS menjadi lebih menarik bagi investor. Hal tersebut berpotensi memengaruhi aliran modal ke negara-negara emerging market, termasuk Indonesia.
"Artinya apa? Kalau dia makin longer taruh di sini, makin lama, baik itu swap ataupun DNDF, dia makin lama yaitu sampai ke 1 tahun, maka kita bisa memberikan insentifnya lebih besar," ujar Destry dalam konferensi pers RDG, Jakarta, Rabu (23/9).
Destry menjelaskan, untuk transaksi swap, BI memberikan insentif berupa diskon biaya hedging hingga 25% bagi penempatan dengan tenor satu tahun. Sementara untuk DNDF, insentif yang diberikan lebih besar, yakni hingga 30%.
"Kalau di DNDF, kalau dia taruh DNDF untuk yang 1 tahun, maka kita memberikan insentif atau diskonnya untuk cost hedging-nya sampai 30%," jelasnya.
Menurut Destry, DNDF menjadi salah satu instrumen yang ingin lebih didorong BI karena transaksi tersebut dapat meningkatkan pasokan dolar di pasar.
"Nah DNDF ini justru kita mau dorong nih. karena kalau DNDF dia jual dolar kan, jadi menambah supply di market. kita beri insentif lagi lebih besar dibanding yang swap," tambahnya.
Kebijakan tersebut melengkapi langkah BI sebelumnya yang telah menaikkan BI-Rate secara kumulatif 100 basis poin pada Mei dan Juni sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga stabilitas di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Destry menegaskan, strategi BI tidak hanya mengandalkan suku bunga. Saat ini, BI juga menggunakan berbagai instrumen dalam bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus tetap memberikan ruang bagi pertumbuhan ekonomi domestik.
"Nah, jadi ini yang kami lakukan. Di satu sisi kita jaga stabilitas Rupiah dengan mendorong inflow untuk masuk," tutup Destry.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Destry Damayanti, Bank Indonesia (BI), dan inflow dengan mengeklik tautan.






Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.