periskop.id - Assalamualaikum, Sobat Halalive.

Coba deh jujur, siapa di sini yang kalau jam 4 sore udah berubah jadi "monster kelaparan"? Mata melotot ngeliatin feed Instagram yang isinya food vlogger lagi review makanan, terus tangan gatel scroll aplikasi ojol buat pesen takjil. 

Es pisang ijo dipesen, gorengan beli dua kresek, martabak manis rasa red velvet juga sikat. Di otak rasanya sanggup ngabisin itu semua sendirian.

Lalu, tibalah momen yang ditunggu-tunggu: Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Begitu adzan maghrib berkumandang, mode beast langsung aktif. Es teh manis habis dua gelas, bakwan dicocol bumbu kacang ludes lima biji, disusul nasi padang pakai rendang bumbu melimpah. Hasilnya? Setengah jam kemudian kamu terkapar di karpet, perut kencang kayak balon mau meledak, mata mendadak sayu, dan napas ngos-ngosan. Pas komat-kamit mau salat Maghrib, ruku' aja rasanya ada yang ngeganjel saking penuhnya tuh perut.

Pertanyaannya: Pernah nggak sih kita mikir, puasa seharian nahan hawa nafsu, eh pas buka malah nafsunya di-unleash secara brutal? Terus, sunnah Nabinya di mana dong?

Yuk, kita obrolin fenomena "kalap berbuka" ini pakai kacamata fiqih dan mindful eating. Biar puasa kita nggak cuma jadi ajang pindah jam makan doang.

Puasa Itu Mengendalikan, Bukan Menunda Balas Dendam

Sobat Halalive, esensi utama dari puasa (Shaum) itu adalah Al-Imsak, alias menahan diri. Kita dilatih buat ngerem hawa nafsu, ngerasain gimana rasanya jadi orang yang nggak punya makanan, dan bikin hati lebih peka.

Tapi lucunya, budaya kita sering kali ngajarin sebaliknya. Bulan Ramadhan malah jadi bulan di mana pengeluaran buat makanan melonjak tajam dibanding bulan biasa. Meja makan pas buka puasa udah kayak arena prasmanan kondangan.

Kalau kita buka puasa dengan niat "balas dendam" karena udah lapar 14 jam, sebenarnya kita lagi menggagalkan training pengendalian diri yang lagi Allah rancang buat kita.

Lampu Merah dari Al-Qur'an: Jangan Israf!

Dalam Islam, makan makanan yang enak dan halal itu boleh banget. Allah nggak pernah ngelarang kita buat enjoy hidangan berbuka. Tapi, ada satu batas yang nggak boleh ditabrak, yaitu Israf (berlebih-lebihan).

Allah SWT berfirman dengan sangat jelas soal habit makan kita:

وكُلُواْ وَاشْرَبُواْ وَلاَ تُسْرِفُواْ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

(Latin: Wa kuluu wasyrabuu wa laa tusrifuu, innahu laa yuhibbul musrifiin)

Artinya: "Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan." (QS. Al-A'raf: 31)

Ayat ini straight to the point. Allah nggak suka sama habit kita yang maruk. Berlebihan di sini maknanya luas, lho. Bisa berarti mubazir karena beli banyak tapi akhirnya dibuang (karena ternyata perut nggak muat), atau berlebihan masukin makanan ke perut sampai membahayakan kesehatan sendiri (halo, GERD dan kolesterol!).

Rumus 1/3 ala Rasulullah SAW: Sunnah yang Sering Di-skip

Kalau mau ngomongin lifestyle paling sehat, mending langsung copy-paste kebiasaan Nabi Muhammad SAW. Beliau itu bukan tipe orang yang habis azan langsung nyari kolak pisang porsi jumbo.

Menu buka puasa beliau super simpel: Kurma basah (ruthab) atau kurma kering (tamr), dan air putih. Udah, itu aja. Cukup buat balikin energi seketika tanpa bikin shock sistem pencernaan.

Selain itu, Nabi SAW ngasih kita "rumus golden ratio" dalam ngisi perut. Ini haditsnya populer banget, tapi praktiknya susaaah minta ampun:

مَا مَلأَ آدَمِىٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ حَسْبُ الآدَمِىِّ لُقَيْمَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ غَلَبَتِ الآدَمِىَّ نَفْسُهُ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ

(Latin: Maa mala-a aadamiyyun wi'aa-an syarran min bathnin, hasbul aadamiyyi luqaimaatun yuqimna shulbahu, fa in ghalabatil aadamiyya nafsuhu fa tsulutsun litha'aamihi, wa tsulutsun lisyaraabihi, wa tsulutsun linafasihi)

Artinya: "Tidak ada wadah yang lebih buruk yang diisi oleh manusia daripada perutnya. Cukuplah bagi manusia beberapa suapan yang bisa menegakkan tulang punggungnya. Jika ia harus melebihkannya, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk napasnya." (HR. Tirmidzi)

Coba deh cek perut kita pas habis kalap bukber. Boro-boro nyisain sepertiga buat napas, yang ada 90% isinya makanan + es teh manis, sisa 10%-nya penyesalan. Nggak heran kan kalau tarawih bawaannya pengen nyender di tiang masjid sambil merem?

Dampak Realita: Dari Ngantuk Sampai Ibadah Ambyar

Selain nggak sesuai sunnah, kalap pas buka puasa itu damage-nya nyata banget buat ibadah kita di malam hari:

  1. Salat Maghrib Nggak Khusyu': Ruku' dan sujud jadi penyiksaan karena asam lambung naik.
  2. Food Coma pas Isya dan Tarawih: Gula darah melonjak drastis, tubuh otomatis ngeluarin insulin berlebih, efeknya otak jadi lemot dan mata berat banget. Alhasil, tarawih cuma dapet capek dan nguapnya doang.
  3. Mubazir: Banyak makanan sisa takjil yang akhirnya berakhir di tempat sampah karena ternyata mata kita jauh lebih lapar daripada perut kita.

Tips Anti-Kalap Saat Buka Puasa

Biar nggak kejadian lagi, coba deh terapi kejut ini pas buka nanti:

  • Berbuka Secara Bertahap: Terapin tips dari artikel Halalive sebelumnya. Batalin puasa pakai air putih dan 3 butir kurma (atau snack kecil). Habis itu STOP. Langsung wudhu dan salat Maghrib. Jeda waktu salat ini ngasih sinyal ke otak bahwa "Oke, perut udah kemasukan makanan", jadi rasa lapar buasnya bakal mereda.
  • Terapkan "Mindful Eating": Kunyah makanan pelan-pelan. Nikmati rasanya. Jangan makan sambil scrolling HP atau ngobrol heboh, karena otak jadi nggak sadar seberapa banyak yang udah ditelan.
  • Jangan Belanja Pas Lapar: Ini aturan emas! Beli takjil atau lauk pas jam 4 sore itu jebakan batman. Beli secukupnya aja dari awal.

Sobat Halalive, puasa itu madrasah (sekolah) buat ngelatih jiwa dan raga. Jangan sampai kelulusan kita di waktu Maghrib malah dirayakan dengan cara yang bikin nilai ibadah kita drop.

Kalap makan pas buka itu bukan cuma bikin perut menderita, tapi juga bikin hati jadi keras dan males ibadah. Mari kita jadikan Ramadhan ini sebagai momen reset kebiasaan, bukan ajang balas dendam kalori. Makanlah secukupnya, beribadahlah sebanyaknya!

Gimana, siap nyoba menu buka puasa yang aesthetic secara sunnah nanti sore?

Sumber Rujukan

  1. Al-Qur'an Surah Al-A'raf ayat 31: https://quran.com/7/31
  2. Hadits tentang larangan memenuhi perut (Jami' at-Tirmidzi): https://sunnah.com/tirmidhi:2380