Periskop.id - Posisi Iran di ajang Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko berada dalam ketidakpastian di tengah meningkatnya konflik di Timur Tengah. 

Melansir PBS News, Selasa (3/3), tempat Iran di turnamen sepak bola putra yang akan dimulai tiga bulan lagi diragukan pada Senin, menyusul eskalasi konflik yang dipicu oleh salah satu tuan rumah turnamen, Amerika Serikat.

Iran dijadwalkan memainkan tiga pertandingan fase grupnya di Amerika Serikat, yakni dua laga di Inglewood, California, dan satu laga di Seattle, pada 15 hingga 26 Juni. Secara keseluruhan, Piala Dunia 2026 akan mempertandingkan 104 laga di sejumlah kota di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko dalam format baru 48 tim.

Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terkoordinasi terhadap Iran sejak Sabtu. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei serta puluhan pejabat senior lainnya. 

Iran kemudian membalas dengan mengarahkan rudal ke sekutu Amerika Serikat, termasuk Qatar yang menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022, serta Arab Saudi yang telah ditunjuk FIFA sebagai tuan rumah Piala Dunia 2034.

"Yang pasti, setelah serangan ini, kami tidak bisa lagi diharapkan menantikan Piala Dunia dengan penuh harapan," kata pejabat tertinggi sepak bola Iran, Mehdi Taj, yang juga menjabat wakil presiden Konfederasi Sepak Bola Asia.

Hingga kini belum jelas apakah federasi sepak bola Iran yang didukung negara akan menolak mengirim timnya ke turnamen, atau apakah pemerintah Amerika Serikat akan secara efektif memblokir partisipasi mereka. 

FIFA menolak berkomentar sejak Sabtu, ketika Sekretaris Jenderal Mattias Grafström menyatakan pihaknya akan memantau perkembangan semua isu di seluruh dunia.

Sementara itu, pejabat Gedung Putih yang mengawasi persiapan Piala Dunia, Andrew Guiliani, menunjukkan sikap berbeda melalui media sosial. 

"Kita urus pertandingan sepak bola besok. Malam ini, kita rayakan peluang mereka untuk kebebasan," tulis Guiliani mengenai Iran.

Kekuatan Iran di Asia dan Situasi Politik di AS

Secara performa, Iran merupakan salah satu kekuatan utama sepak bola Asia. Tim ini telah lolos ke enam dari delapan edisi Piala Dunia terakhir dan saat ini berada di peringkat ke-20 dunia dari 211 negara anggota FIFA. Iran tidak pernah berada di bawah peringkat ke-24 sejak Piala Dunia terakhir di Qatar.

Dalam undian Piala Dunia yang digelar di Washington, D.C. pada Desember, Iran masuk dalam pot unggulan kedua. Undian tersebut berlangsung beberapa menit setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menerima Penghargaan Perdamaian FIFA perdana.

Meski Mehdi dan sejumlah pejabat sepak bola Iran sempat ditolak visanya untuk masuk ke Amerika Serikat, hasil undian relatif menguntungkan bagi Iran. 

Dalam format baru 48 tim, sebagian besar tim peringkat ketiga di fase grup dapat melaju ke babak gugur. Iran dijadwalkan menghadapi Selandia Baru yang berperingkat lebih rendah, kemudian Belgia, dan menutup fase grup melawan Mesir.

Iran juga diperkirakan akan mendapatkan dukungan dari diaspora mereka di Amerika Serikat, meskipun warga Iran masih dikenai larangan perjalanan. Pemerintahan Trump sebelumnya menjanjikan pengecualian bagi atlet dan pelatih yang datang untuk ajang olahraga besar seperti Piala Dunia.

Politik seputar Iran di stadion Piala Dunia bukan hal baru. Pada edisi sebelumnya, protes terkait isu domestik Iran sempat disuarakan oleh para pendukung.

Aturan FIFA dan Potensi Penggantian

Regulasi Piala Dunia FIFA memungkinkan sebuah tim mengundurkan diri atau dikeluarkan dari turnamen. Dalam Pasal 6.7 disebutkan, "FIFA akan memutuskan masalah ini atas kebijaksanaannya sendiri dan mengambil tindakan apa pun yang dianggap perlu."

Aturan tersebut juga menyebutkan, "FIFA dapat memutuskan untuk mengganti Asosiasi Anggota yang bersangkutan dengan asosiasi lain."

Ketentuan ini memberi kewenangan luas kepada Presiden FIFA Gianni Infantino dalam menentukan langkah terkait Iran. 

Sebelumnya, keputusan Infantino memasukkan Inter Miami yang diperkuat Lionel Messi ke Piala Dunia Antarklub 2025 juga dinilai tidak memiliki dasar aturan formal yang jelas.

Jika Iran mengundurkan diri, federasi sepak bolanya akan kehilangan sedikitnya US$10,5 juta. FIFA memberikan US$9 juta kepada setiap tim yang gagal lolos dari fase grup, serta US$1,5 juta untuk biaya persiapan kepada seluruh 48 peserta.

Iran juga terancam denda disipliner minimal 250.000 franc Swiss jika mundur hingga 30 hari sebelum turnamen, dan minimal 500.000 franc Swiss jika keputusan diambil dalam sebulan terakhir sebelum kick off. Selain itu, Iran berisiko dikeluarkan dari proses kualifikasi Piala Dunia 2030.

Irak, UEA, dan Skenario Pengganti

Iran merupakan salah satu dari delapan wakil Asia yang lolos otomatis pada Maret lalu. Jika Iran mundur, kandidat pengganti dari Asia adalah Irak atau Uni Emirat Arab.

Irak dan UEA berada di posisi kesembilan dan kesepuluh Asia dalam rangkaian kualifikasi. Keduanya sempat bertemu dalam playoff dua leg pada November, di mana Irak menang agregat 3-2 dan melaju ke playoff antarbenua di Meksiko. 

Pada 31 Maret, Irak dijadwalkan menghadapi Bolivia atau Suriname untuk memperebutkan tiket terakhir.

Namun, aturan FIFA menyebutkan pengganti bisa berasal dari asosiasi lain tanpa harus dari konfederasi yang sama, sehingga membuka berbagai kemungkinan.

Dalam sejarah, Denmark pernah menggantikan Yugoslavia di Kejuaraan Eropa 1992 kurang dari dua minggu sebelum turnamen dan justru menjadi juara. Pada Piala Dunia 1950 di Brasil, hanya 13 dari 16 tim yang berpartisipasi setelah India dan Skotlandia menolak ikut serta.

Bagaimana Peluang Timnas Indonesia?

Dalam konteks Asia, peluang Timnas Indonesia untuk mendapatkan keuntungan langsung dari mundurnya Iran relatif kecil. Irak saat ini berada di tahap playoff antarbenua dan menjadi kandidat terdepan sebagai pengganti. UEA sudah tersingkir setelah kalah dari Irak.

Meski demikian, secara teoritis masih ada skenario kecil. Jika Irak memenangi playoff antarbenua, lalu terjadi eskalasi lebih lanjut yang membuat Qatar dan UEA tidak dapat mengirim timnya karena menjadi sasaran Iran akibat keberadaan pangkalan militer Amerika Serikat di wilayah mereka, maka konfigurasi slot Asia bisa berubah.

Qatar sendiri telah lolos otomatis ke Piala Dunia 2026 melalui ronde keempat Kualifikasi Zona Asia. Jika Qatar dan UEA sama-sama tidak dapat berpartisipasi, Indonesia harus menghadapi Oman yang juga gagal di ronde keempat. Jika menang, Indonesia berpeluang langsung lolos.

Namun skenario tersebut masih sangat spekulatif dan bergantung pada dinamika geopolitik yang berkembang.

Situasi Iran di Piala Dunia 2026 kini menjadi ujian bagi FIFA dalam menyeimbangkan aspek politik, hukum, dan olahraga di tengah konflik bersenjata yang terus memanas.